English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Musikal Laskar Pelangi

Musikal Laskar Pelangi
Jakarta - Musikal Laskar Pelangi, Dari novel laris ke film yang juga laris, 'Laskar Pelangi' telah menjadi brand yang kuat. Kini, dengan gagah perkasa brand itu merangkak ke atas panggung gemerlap, menjelma menjadi sebuah pertunjukan teater musikal yang mengharu-biru. Lengkap sudah perjalanan sang brand raksasa untuk menggenapkan misinya memuaskan pelanggan setianya. Ini bukan pelajaran marketing, tapi itulah yang terjadi di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jumat (17/11/2010) malam.

Selama 3 jam, Musikal 'Laskar Pelangi' menghipnotis gedung baru berkapasitas 1200 orang itu dengan tari-tarian yang rancak dan lagu-lagu yang mendayu-membuai. Bocah-bocah miskin yang penuh semangat, yang sudah kita akrabi lewat novel dan filmnya, malam itu kembali, dengan tingkah-polah yang telah kita hapal. Inilah asiknya menonton pertunjukan ini: tak ada kejutan, tak ada yang berada di luar dugaan. Kita sudah tahu apa yang akan terjadi, tinggal duduk manis menunggu, kapan Lintang ngibrit menghindari buaya yang menyegatkan, kapan Ikal meleleh melihat jemari lentik Aling ketika menyodorkan sekotak kapur, dan, oh, mana Mahar si seniman slebor berkalung radio yang ngocol dan minta dijitak itu!

Tapi, sebentar. Betapa semena-menanya review ini jika berasumsi bahwa semua orang yang akan nonton musikal ini sudah pernah membaca dan/atau menonton filmnya. Tapi, percayalah, bagi Anda yang benar-benar blank tentang brand sejuta umat Laskar Pelangi, musikal ini tidak akan membuat Anda bingung. Riri Riza, yang sebelumnya menyutradari filmnya, menata pertunjukan dengan rapi, tiap adegan ditampilkan dengan durasi yang pas, ada yang agak panjang, ada yang pendek-pendek, dan itu efektif untuk menjaga mood penonton. Apakah review ini juga perlu menceritakan garis besar ceritanya? Anda sudah keterlaluan, tapi baiklah.

'Laskar Pelangi' pada dasarnya adalah sebuah kisah kenangan. Dan, seperti yang lazim berlaku selama ini, orang yang merasa perlu mengenang masalalunya adalah orang-orang yang dalam kehidupannya sekarang telah sukses. Begitulah, Ikal adalah satu dari 10 anak miskin di Kampung Gantong, Pulau Belitong yang kaya tambang timah namun rakyatnya tak menikmati. Di bawah asuhan Ibu Guru Muslimah yang berhati mulia, dan Pak Guru Bakri yang gelisah dan pesimis dan Pak Kepala Sekolah Harfan yang berdedikasi, anak-anak itu belajar di sekolahan yang hampir rubuh, mengejar mimpi-mimpi mereka dalam keterbatasan.

Panggung dibuka dengan suasana Kampung Gantong yang sibuk pada suatu pagi, dengan latar belakang Pabrik Timah yang angkuh. Lalu muncul seorang pemuda bergaya 80-an, memperkenalkan dirinya sebagai Ikal, dari sudut pandang dialah alur cerita teater musikal ini bergulir, sebagai sebuah kilas balik masa kecilnya, bersama teman-temannya yang kemudian oleh guru mereka dipanggil sebagai Laskar Pelangi.  Dengan cerita seperti itu, jangan bayangkan sebuah musikal yang glamor, dengan kostum warna-warni yang mewah. Tapi, jangan salah, kesederhanaan pun bisa tampil tak kalah memukau.

Jay Subiyakto mendandani panggung dengan dekorasi yang luar biasa untuk setiap adegan. Koreogfari yang dikerjakan oleh Hartati memang tidak terlalu menonjol pada adegan-adegan anak-anak Laskar Pelangi, namun pada bagian-bagian lain dia memasukkan berbagai unsur gerak, dari silat Minang hingga ballet. Pada setiap kemunculan sosok-sosok bersarung, tarian selalu menyita perhatian kita. Dengan bingkai musik yang sepenuhnya berirama Melayu, yang digarap oleh Erwin Gutawa, lagu-lagu yang liriknya diciptakan oleh Mira Lesmana menjadi nafas setiap adegan, yang kebanyakan bernuansa sedih.

Kalau dilihat 'ambar besarnya',musikal ini ingin bicara tentang ketidakadilan yang menimpa daerah akibat pembangunan yang tidak merata. Hal itu diungkapkan dengan jelas lewat lagu 'Nasib Tak Kan Berubah' yang diulang pada empat adegan. Ini cukup memberatkan penonton anak-anak, mengingat bahwa musikal ini pada dasarnya adalah cerita anak-anak --- atau, oke, kalau istilah itu tidak tepat, setidaknya musikal ini hampir seluruh adegannya dimainkan oleh anak-anak.

Keriangan dan keceriaan sudah barang tentu mewarnai pertunjukan ini. Namun, suasana sedih juga mendominasi, terutama pada babak kedua (pertunjukan dibagi dua babak dengan jeda istirahat 20 menit). Bagian kematian Pak Harfan (akan diperankan secara bergantian oleh Chandra Satria dan Iyoq Kusdini) dituangkan dalam 3 adegan yang penuh air mata. Dan, itu disambung dengan adegan perpisahan Lintang dengan anak-anak Laskar Pelangi --dia memutuskan berhenti sekolah setelah bapaknya yang nelayan tak kembali dari laut. Ini adegan kesedihan puncak yang membuat sejumlah penonton sesenggukan.

Para pemeran anak-anak Laskar Pelangi bermain natural, dengan bekal vokal yang prima. Lea Simanjutak yang malam itu memerankan Bu Muslimah (untuk selanjutnya diperankan bergantian dengan Dira Sugandi dan Eka Deli) menjadi salah satu kekuatan utama, dengan akting dan suaranya yang memikat. Dia harus memainkan adegan-adegan tunggal yang paling berat, misalnya ketika kehilangan harapan setelah Pak Harfan meninggal. Gabriel B Harvianto, dengan porsi kemunculan yang tak banyak sebagai Pak Bakri berhasil mencuri perhatian ketika menyanyikan 'Sekolah Miring' dalam adegan pamitannya setelah berhenti dari sekolah Laskar Pelangi itu, untuk mengajar di tempat lain yang lebih menjanjikan.

Dengan setting persawahan, sekolah yang miring, jalan di tengah hutan ditunggui buaya, pabrik timah yang dijagai satpam-satpam galak, secara keseluruhan musikal ini memang terkesan 'muram'. Namun, itu  bukan 'aura' yang sengaja ingin disampaikan kepada penonton, melainkan 'konsekuensi' dari ceritanya yang memang seperti itu. Bagi yang menyukai filmnya, musikal ini akan memberi sensasi yang lebih. Sedangkan bagi yang tidak menyukai filmnya, versi panggung memberikan efek yang lebih kuat, terasa lebih bertenaga. Jadi, jangan lupa bawa sapu tangan.
from : music.detikhot.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews