English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google
Showing posts with label musik daerah. Show all posts
Showing posts with label musik daerah. Show all posts

Sejarah Musik Melayu

Sejarah Musik Melayu

Sejarah Musik Melayu, Sejak kapan perhelatan perkawinan dimeriahkan hiburan? Paling sedikit di Batavia sejak menjelang akhir abad ke-18, begitulah laporan seorang pelancong Jawa bernama Sastrodarmo yang berkunjung ke Batavia pada zaman itu. Jenis hiburan pun dilaporkannya antara lain gambus dengan lagu-lagu Arab.

Gambus adalah musik yang dibawa peranakan Arab dari Hadramaut (Yaman). Perantau Arab ini menurut C.C. Berg memang ramai sekali berdatangan ke Hindia Belanda pada abad ke-18 dan menunjukkan eskalasi pada abad ke-19 .

Tentu saja sulit bagi kita untuk melacak grup gambus yang populer pada abad-abad tersebut. Catatan yang dapat dipertanggungjawabkan berasal dari era menjelang dan sesudah PD II. Berikut ini rangkuman percakapan KSK dengan seorang penyanyi lagu Melayu yang terkenal dengan lagunya Ya Mustafa yaitu Munif Bahaswan yang berlangsung di Jakarta. Sejarah Musik
Extra Melayu

Market gambus bukan hanya kalangan peranakan Arab, tetapi orang-orang non Arab pun banyak yang menyukai gambus. Mempertimbangkan selera market, menurut Munif, orkes gambus sering membawakan extra lagu Melayu, atau extra Melayu. Market di kalangan non Arab makin meluas, akhirnya pada tahun 1950 awak grup-grup gambus yang ada seperti Al Wardah, yang pada awalnya dipimpin Umar Hamada kemudian Muchtar Lutfi, mendirikan Orkes Melayu Moderen Sinar Medan di bawah pimpinan Umar Fauzi Aseran. Disebut orkes Melayu moderen karena menggunakan alat tiup (brass) seperti klarinet, saxophone, dan trompet. Kemudian hari disebut Orkes Melayu saja, yang sering disingkat OM.

Trend ini diikuti oleh awak gambus Al-Wathon pimpinan Hassan Alaydrus yang mendirikan OM Kenangan pimpinan Hussein Aidit. Sementara itu awak orkes gambus Surabaya Al Afan pimpinan A. Kadir, menurut Munif, mendirikan OM Sinar Kemala pimpinan A. Kadir juga. Menurut Munif, mantan Mendikbud Fuad Hassan pernah bermain biola untuk orkes gambus Al Afan. Dalam percakapan dengan penulis, Hassan Alaydrus juga memberikan kesaksian yang sama bahwa Fuad Hassan pernah bermain gambus. Namun kepada penulis Fuad Hassan mengatakan bahwa ia tak pernah bermain gambus melainkan ikut orchestra besar, mungkin semacam New York Philarmonic Orchestra. Sejarah Musik
Abdul Haris, M. Thahar, dan Hussein Bawafi adalah pengarang lagu Melayu generasi pertama. A. Haris terkenal dengan lagu Kudaku Lari. Lagu ini diilhami oleh back sound film Mesir Syaifi wal Qalbi yang dibintangi Abdul Wahab. Wahab adalah bintang film dan penyanyi Mesir yang amat digemari di Indonersia. Penyanyi Mesir perempuan yang nyaris menjadi mitologi "persatuan Arab"adalah Ummi Kalsum.

M. Thahar mengarang lagu Cinta Hampa. Lagu ini mencuat merobek cakrawala musik Melayu berkat suara yang gurih Hasnah Thahar, isteri M. Thahar. Bawafi muncul di zaman itu dengan lagunya Khayalan dan Penyair, tetapi lagunya yang mencuat adalah Seroja.

Lagu-lagu Melayu yang lahir di zaman ini meski pun mengalami up dating dibanding dengan lagu Melayu klasik yang ditulis oleh penggubah-penggubah N.N. (tak dikenal) seperti lagu Seringgit Dua Kupang yang kini didangdutkan menjadi Ayam Jago Jenggernya Merah, tetapi menurut Munif belum mencapai format lagu yang disebut songform. Struktur sebuah lagu yang disebut songform adalah terdiri atas 32 bar dengan bagian yang diulang (refrein) A1 + A2, klimaks (yang malah disebut refrein), dan kembali kepada A1 atau A2, atau malah muncul A3. A3 adalah syair yang bukan pengulangan dari bait-bait sebelum klimaks.

(Munif yang dikenal sebagai penyanyi yang serba bisa, ia pun mahir menyanyikan lagu jazz, dan untuk kurun waktu yang lama ia bersama Rudy Rusadi dan Dudung menjadi vocal-grup kelompok terkenal Los Morenos. Ketika tamat pendidikan dasar di Al-Irsyad, Batavia, Munif beroleh beasiswa dari Irak yang ketika itu dipimnpin oleh Raja Faisal).

Said Effendi nyaris meninju Iskandar

Penulis mengatakan kepada Munif bahwa ia adalah penyanyi Melayu legendaris, Munif mengelak seraya menyebut nama Effendi. Tentu tidak perlu digelar perdebatan, baiklah didengar argumentasi Munif.

Effendi adalah pelopor lagu Melayu dengan format songform, lagu ciptaannya itu dibawakan dengan suara soprano bercengkok. Dan tidak pula ia menempuh karirnya dengan jalan yang mudah. Kepada Munif, Effendi mengungkap riwayat hidupnya.

S. Effendi dilahirkan dengan nama Said Arrasyidi di Bondowoso sekitar tahun 1930. Pada sekitar tahun 1952 pemuda Said merantau ke Jakarta dan melamar di RRI Stodio Jakarta. Namun lelah menunggu lamaran tak kunjung berjawab. Maka Said mendapat pekerjaan, yang bersifat non seni, di Kalimantan. Pada suatu hari yang menerima surat dari familinya di Jakarta bahwa lamarannya bekerja di RRI diterima. Said meluncur ke Jakarta.

Ia kaget bukan kepalang ketika di latihan di studio RRI dengan iringan Orkes Studio Djakarta (OSD) pimpinan Josd Clebert ia disodorkan partitur. Said tidak mengenal not balok. Ia tahu not angka. Sal Salius, seorang penyanyi lagu seriosa, melihat bakat yang luar biasa yang dimiliki Said menjadi sukarelawan mengajarkan Said not balok. Dan Said dalam waktu cepat menguasainya. Ia mulai bernyanyi dan dikenal. Lalu ia melengkapi namanya menjadi Said Effendi. Nama family Arrasyidi tak dipakainya. Bahkan kemudian hari ia lebih suka memakai nama S. Effendi saja. Nama Effendi adalah sangat lazim digunakan dan amat disukai di kalangan masyarakat Mesir, apalagi setelah di bioskop Alhambra, Sawah Besar, diputar berbulan-bulan film Mesir Bul Bul Effendi.

Effendi mengarang lagu pertama berjudul Bachtera Laju. Dengan bersemangat ia memasuki kamar kerja komponis Iskandar, ayah penyanyi Diah Iskandar yang dijuluki Connie Francis Indonesia. Iskandar sedang bermain piano menerima naskah Effendi tanpa menoleh. Setelah menatap naskah itu beberapa menit kemudian naskah itu diremas dan dilemparkan ke keranjang sampah. Darah menggelegak di kepala Effendi. Ia meninggalkan ruangan Iskandar dan menuju kantin RRI dengan niat meninju Iskandar. Sesaat menunggu pikirannya berubah. Malah ia kembali ke ruang Iskandar yangh telah kosong dan memungut naskahnya yang lecek. Dibelainya naskah itu dan ia memasuki ruang komponis Ismail Marzuki.

"Waduh, ini lagu bagus benar, biar saya yang membuat arrangementnya, dan dua hari lagi kita latihan", kata Ismail Marzuki.

Dengan girang Effendi meninggalkan kamar Ismail Marzuki. Dan ia berpapasan dengan Iskandar yang wajahnya terlihat bingung.

"Ëffendi, mana naskah kamu tadi, aku cari-cari di keranjang sampah kok enggak ada"

"Memangnya kenapa?" Tanya Effendi.

"Lagu itu bagus, aku mau buat arrangementnya"

"Oh terlambat, Ismail yang mau membuat arrangementnya. Tapi, tadi 'kan kamu buang ke keranjang sampah naskah itu!"

"Aku 'kan cuma bercanda"

Bachtera Laju meroket sampai ke negara jiran. Setelah itu Effendi menulis puluhan lagu dengan standard songform. Lagunya bagus-bagus semua, apalagi ia yang menyanyikannya. Pada tahun 1980-an Effendi meninggal dunia. Namun namanya tetap dikenang. Dan anehnya, terutama di Malaysia. Seniman Malaysia acapkali mengadakan acara memperingati Effendi.

"Saya Indonesia"

Munif dan M. Mashabi adalah dua penyanyi tersohor yang nyaris muncul bersamaan di sekitar tahun 1955. Munif pandai mencipta lagu. Hingga saat ini ia telah mencipta sebanyak 75 lagu Melayu dan beberapa lagu Arab.

M. Mashabi, atau Mamat. Mashabi adalah nama famili, namanya sendiri Muhammad. Ia lahir dan dibesarkan di Kebon Kacang, Tanah-abang. Ciptaan Mashabi tidak banyak, mungkin tidak sampai 20 buah. Tetapi banyak ciptaannya yang ia nyanyikan sendiri yang tersohor misalnya Ratapan Anak Tiri yang sempat meledak dan menjadi tema film Ratapan Anak Tiri garapan Sandy Suwardi. (M. Mashabi meninggal bunuh diri di rumahnya di Tanah Abang, Jakarta).

Munif pandai berdendang Melayu, tetapi menyanyikan lagu Arab pun jago. Di samping Ya Mustafa yang mencapai hits, lagu Meester Machmud pun meledak. Lagu ciptaan Munif Ya Gazibni banyak disukai khalayak penggemar musik.

(Pada tahun 1965 Munif diundang untuk bernyanyi di Yaman. Ia menyanyikan lagu-lagu Melayu dan Arab dengan iringan gitar yang ia mainkan sendiri. Sambutan publik cukuplah. Dan Munif pun diwawancara Televisi Yaman. Ketika pewawancara menanyakan ia orang mana, dengan tegas Munif berkata bahwa ia orang Indonesia. Pewawancara menukas, bukankah anda menggunakan nama famili Bahaswan, mestinya anda orang Hadramaut, Yaman. Munif menandaskan lagi bahwa dirinya adalah orang Indonesia, masalah nama famili Bahaswan itu adalah soal biologi. Alangkah gusarnya sang pewawancara. Sejak wawancara itu Munif diboikot wartawan Yaman).

Peran kaum peranakan Arab cukup signifikan dalam musik Melayu. Juga di Malaysia. Dua penyanyi Melayu yang tersohor di Malaysia, SM Salim dan Syarifah Aini berdarah Arab. Meski perlu dicatat pada sekitar tahun 1956 muncul OM Bukit Siguntang pimpinan anak Pecenongan A. Chalik. Namun haruslah diakui peran serta peranakan Arab dalam bidang ini. Mereka juga penggubah syair-syair yang indah. Lagu-lagu ciptaan Munif, misalnya Cinta Direkayasa, M. Mashabi Rasa Cinta, Hussein Bawafi Budi, Effendi Khayalan Suci, A. Kadir Keagungan Tuhan, adalah syair lagu dengan cita rasa yang tinggi. Menurut Munif, penggubah lagu seperti Hussein Bawafi sangat mendalami karya sastra Amir Hamzah dan Chairil Anwar.

Bina Ria

Sebuah konkurs bernyanyi lagu-lagu Effendi yang diadakan di Singapura pada sekitar tahun 1967-1968 dimenangkan oleh seorang pemuda Indonesia bernama Oma Irama. Sebenarnya ia penyanyi lagu-lagu Barat populer. Bukan untuk pertama kali ia menghikuti kongkurs. Sebelumnya juga ia mendapat tempat yang berarti dalam kongkurs lagu Barat populer. Kala itu ia menyanyikan lagu I who have nothing.

Oma Irama, kini Raden Haji Oma Irama atau potong letter Rhoma Irama, bukan lagi sebagai orang yang tak punya apa-apa. Ia berharta berkat musik dangdutnya. Musik Dangdut adalah derifat Musik Melayu Moderen. Rhoma Iramalah pelopornya ketika ia muncul dengan gaya musik yang lain dari yang lain membawakan lagu ciptaannya Bina Ria pada sekitar tahun 1969. Rhoma menciptakan aliran. Kalau musik Melayu Moderen mengandalkan accordeon sebagai lead instrument, Rhoma menggunakan electrik gitar. Dalam perkusi ia memasukkan unsur drum yang berperan menjadikan sebuah lagu menjadi beatles, punya warna irama yang jelas. Tamborin dipertahankannya, namun marakas tak lagi menampil. Alur musik melewati jeram-jeram breaks yang banyak. Pada musik Melayu moderen breaks hanya sekali-sekali saja, dan itu pun sedikit saja lagu yang alur musiknya memakai break. Sejarah Musik
Rhoma Irama menjadi "mazhab", ia adalah sebuah tonggak dalam perjalanan musik Melayu. Aliran ini ramai pengikutnya hingga kini. Tak banyak lagi yang "mengamalkan" musik Melayu moderen pada tahun 1970 kecuali M. Mashabi. Tetapi kelompok musik Mashabi hanya dapat ruang bermain di tempat yang terlalu bersahaja dengan sound system bertenaga accu. Dan Mashabi pun pergi ke haribaanNya dalam usia 40-an, di tahun 1970-an, pada saat musik Melayu modern yang ikut dirintisnya memudar.
sumber 

Gamelan Menembus Abad Millennium

Oleh : Michael Gunadi Widjaja

Seperangkat perkusi yang terbuat dari metal.Membentuk sebuah orkestrasi bunyi yang lengkap,kompleks dan khas.Itulah Gamelan.Orkestra perkusi metal sebetulnya dikenal juga di Cina,Vietnam,Kamboja dan juga Thailand.Daerah di Indonesia pun tak cuma satu yang mengenal orkes perkusi metal.Jawa barat,Jawa tengah dan Bali.namun istilah gamelan khusus diperuntukkan bagi orkes perkusi metal di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Sejak abad 8 dan 9 gamelan telah ada dan dikenal.Seiring berjalannya waktu,gamelan seolah terpinggirkan oleh ekspansi musik barat.Gamelan menjadi orkestra bunyi yang asing bahkan di daerah asalnya.Generasi anak jaman lebih terpukau dengan musik barat yang kental oleh nuansa gemerlap industri musik.dan gamelan pun tercitrakan hanya sebagai bentuk seni yang kuno,antik,asing,aneh dan ketinggalan jaman.Tentu saja fenomena ini sangat menyedihkan,memilukan dan memprihatinkan.Sebagai salah satu national heritage,gamelan mestinya dapat lebih banyak berbicara di kalangan generasi anak bangsa.
Ada ironi yang terjadi pada gamelan.Di daerah dan tanah airnya,gamelan kurang mendapat tempat.Sementara di negara lain gamelan justru dianggap sebagai bentuk seni auditif yang sangat bermutu.Di Tokyo,gamelan menjadi cabang seni ketrampilan bagi siswa sekolah dasar.Di jurusan etno musikologi di Amerika Serikat gamelan merupakan mata kuliah mayor.Dari sanalah lahir musikolog seperti Lou harrison dan Jody Diamond,yang mengusung gamelan pada citra mendunia.Demikian juga di Selandia baru,di Wellington,ada Jack Body dengan gamelan Padhang Moncar.jack Body juga membuat gamelan mendunia dengan gubahan gendhing-gending baru.
Lou harrison.Peralatan gamelan dibuat di Amerika
Lou harrison.Peralatan gamelan dibuat di Amerika
Upaya melestarikan gamelan dan mencitrakannya hingga mendunia,dilakukan juga di tanah air,Almarhum Sapto rahardjo adalah pionir dalam upaya ini.Dimulai gagasannya dengan Yogyakarta International Gamelan Festival,konsep musiknya tentang gamelan meets synthesizer sampai kolaborasinya dengan pemusik Perancis Andre Jaumee dalam CD Suita Borobudur.
Alm.Sapto Rahardjo
Alm.Sapto Rahardjo
Upaya para pionir gamelan dan musikolog untuk mengusung gamelan untuk mendunia,bukanlah tanpa alasan.Gamelan tradisional memiliki konsep musik yang luar biasa kompleks.Tidak seperti musik barat,gamelan bukan musik Tonal melainkan musik modal Laras apapun dalam gamelan bisa menjadi awalan titi laras baru.Konsep modal jauh lebih dahulu dimiliki gamelan dibanding tangga nada Gregorian musik barat.Belum lagi sifat gamelan yang sensual,exotic dan jernih.
Gamelan sebagai mied music oleh KMSWT Tegal
Gamelan sebagai mied music oleh KMSWT Tegal
Dengan kekayaan jati dirinya,gamelan siap untuk menembus abad Millennium.Persoalannya adalah,gamelan harus ” bersaing ” dengan gemerlapnya industri musik dengan produk musik budaya barat yang sangat menggiurkan.Upaya yang dapat dilakukan adalah revitalisasi.menjadikan gamelan sebagai musik baru,new musik.hal ini dilakukan dengan :
  • Membuat gubahan yang menonjolkan fungsi tiap piranti gamelan.Jadi tidak harus gamelan tampil dengan performa penuh.Ada komposisi untuk dua gender saja.gender dan saron saja.Ataupun format ensemble yang ringkas.Ini sesuai dengan tuntutan jaman yang menghendaki portabilitas tinggi
  • melakukan mixed cultural.Misalnya gamelan berfusi dengan jazz atau jenis musik lainnya
  • Mengemas tampilan seni gamelan dengan performa panggung yang lebih menarik
Upaya tersebut masih terus gencar dilakukan.Agar gamelan benar-benar siap menembus abad Millennium.yang dapat dimaknai sebagai siap pula menghantar generasi anak bangsa menuju modernisasi tanpa kehilangan akar budayanya.
Berikut ini dapat kita saksikan bentuk revitalisasi gamelan.Ditampilkan oleh GAMELAN X (baca : gamelan crosover) dari USA.
http://hiburan.kompasiana.com/group/musik/2010/08/28/gamelan-menembus-abad-millennium/
www.thejeo.blogspot.com

Pembajakan Semu Terhadap Karya Musik

oleh : Michael Gunadi Widjaja

” Setiap kali anda memutar lagu karya Gesang,bisa jadi anda sudah mencuri periuk nasinya “

Kalimat tersebut terpampang pada booklet resmi dari KARYA CIPTA INDONESIA sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang hak cipta musik di Indonesia.Hak cipta karya musik,dalam highlight KCI dihubungkan dengan periuk nasi seseorang. Almarhum pak Gesang.Dan bicara tentang periuk nasi seseorang,agaknya memang kita harus mau untuk sedikit mengernyitkan kening.Dan memang hak cipta musik di Indonesia masih menyisakan permasalahan yang tidak ringan.
Hak cipta terhadap karya musik dalam artikel ini saya batasi menjadi dua hal : Printed Material dan Audio Material.Yang tergolong printed material adalah karya yang dicetak,baik buku maupun partitura lagu dan atau musik.Sedangkan audio material yang saya maksud adalah karya musik yang diperdengarkan.Tentu dalam bentuk rekaman.Dan pembajakan yang kali ini saya bicarakan bukan pembajakan seperti pembajakan VCD yang marak.Pembajakan dalam tulisan ini adalah pembajakan semu atau saya beri istilah PSEUDO PIRACY.Dan pseudo piracy ini terjadi dalam lingkup pemanfaatan komputer.
Illustrasi 1
Saya meminjam CD musik dari seorang teman.Sebuah CD paten.Artinya bukan bajakan,resmi,dan ada stiker etiket PPN nya.Karena saya suka dengan musiknya,saya bermaksud mengcopy CD tersebut untuk keperluan pribadi.Hanya pribadi dan untuk saya nikmati sendiri.Saat akan mengcopy,usaha saya gagal.Karena CD tersebut copyrighted protection.jadi tidak bisa dan tidak boleh dicopy.Saya tak berputus asa.Saya install softwre CD ripper.Dan dengan CD ripper tersebut tiap track dari CD, saya ripped (jagal paksa).Berhasil.Apakah ini sebuah pembajakan??? Kan saya melakukannya tidak untuk diperdagangkan.Hanya untuk pribadi.Jawabnya…ehm…Inilah pseudo piracy.Sama halnya dengan fotocopy.terhadap textbook dan fotocopy terhadap buku pelajaran musik dan buku lagu-lagu.
Illustrasi II
Saat seorang artis merilis album baru untuk dipasarkan,kurang dari 24 jam kita sudah bisa mengunduh album baru tersebut SECARA GRATIS!!!! Melalui internet.Banyak situs yang menyediakan konten unduh secara gratis untuk album lagu baru.Apakah ini sebuah pembajakan?? Toh pemilik situsnya tidak mendapat keuntungan apapun.Sama sekali tidak ada komersialisasi.Pengunduhan dilakukan secara gratis.Jelas tidak ada profit yang masuk ke dalam pemilik situs.Benefit??Tidak juga.Nama dan ketenaran pemilik situs??? Tidak juga Karena kita tak pernah tahu situs penyedia gratisan itu milik siapa.Dan servernya bisa saja berada di Canada,Aussie dengan alamat yang sulit dilacak.Sekali lagi…Inilah pseudo piracy.Dan ini juga berlaku bagi naskah-naskah musik.
Di sisi lain,pseudo piracy semacam ini sangat bermanfaat bagi pemusik-pemusik di daerah semacam saya ini.Di kota kecil seperti tempat tinggal saya,amat sangat sulit membeli buku musik.Bukan soal harganya,namun material nya yang tak tersedia.Contoh,buku JAZZ HANON.Silahkan cari bahkan sampai ke Medan,Jakarta,Jogja,Surabaya.Akan amat sangat sulit untuk mendapatkannya.Dengan internet..wow dan yahud.Saya tinggal mengunduh,dan gratis lagi.Inilah sisi lain dari pseudo piracy.Pernah ada yang mengatakan pada saya agar membeli buku musik via online.Membeli,bukan unduh gratisan.Saya coba di Amazon.com,hasilnya,amat mahal dan shipping nya sampai ke kota saya tidak kurang dari 20 hari !!Sementara siswa saya dalam 20 hari tersebut perkembangannya amat cepat.Dan seringkali buku atau naskah musik yang kita butuhkan tak tersedia pada situs belanja online yang resmi.
Sekelumit paparan tadi sepertinya ingin berujar bagi kita.Pseuda piracy atau pembajakan semu,memang benar-benar semu.Artinya batas antara pelanggaran dan manfaat benar-benar semu.Memang ada hak cipta karya musik yang dilanggar.Namun tidak ada komersialisasi untuk keuntungan ekonomi bagi tiap pribadi.Sementara manfaat dan mudharat nya amat besar.
http://hiburan.kompasiana.com/group/musik/2010/09/14/pembajakan-semu-terhadap-karya-musik/
www.thejeo.blogspot.com

Music of North Sumatra - Indonesian Culture

Music of North Sumatra - Indonesian Culture, 75 thousand years ago, a volcano erupted deep in the interior of North Sumatra, spreading ash as far as Sri Lanka and leaving behind a crater now known as Lake Toba. One hundred kilometers long, it is the largest volcanic crater lake in the world. The fertile volcanic soils of its shores have supported intensive agriculture for millenia. Its great natural beauty has made it Indonesia's third-largest tourist attraction. This is the original homeland of the Batak, a family of seven Indonesian ethnic groups with a population of perhaps two million.



These seven groups (Toba, Karo, Simalungun, Pak-pak, Dairi, Angkola and Mandailing) have related but distinct languages, customs, and traditional arts. Such is the variety of Batak music and dance that no one program could present even a sampling of it all. Festival of Indonesia has chosen to concentrate on three highly contrasting traditions: those of the Toba, the Karo and the Mandailing.


The Batak groups are divided by religion (the Mandailing are Islamic; the Toba, Christian) and by language (Toba and Karo in particular are mutually unintelligible), but unified by a common passion for genealogy. It is not unusual to meet Batak men who can recite fluently the names of eight generations of their ancestors. These ancestral trees represent a sort of blueprint for Batak society; they explain the origins of and relations between the clans (marga) which dominate Batak social life.


Every Batak belongs to one of these patrilineal clans. They are exogamous: a man may not marry a woman from his own clan, but must search among other clans for a wife. The marriage ties which link clans form an intricate web of kinship which touches every aspect of Batak society. The clans also order Batak culture, ceremony, mythology and the arts.


There are musical compositions specific to one or another clan; clan membership determines the order of events at the life-cyle ceremonies at which music and dance are essential.


Music and dance play a crucial role in Batak society. The word for "ceremony" ("gondang" in Toba; "gendang" in Karo) is actually a musical term and refers both to the Batak orchestra of drums, gongs, and oboes and also to the tunes they play. The musicians are essential to a ceremony because they are the intermediaries between humanity and the Creator. The sounds of the drums and gongs convey human prayers to the spirit world.


Musicians thus command great respect in traditional Batak society and they must follow a certain code of behavior. "The musicians must be honest men," explained one old Toba Batak man, "otherwise they risk angering the spirits."
Gondang Uning-Uningan




Batak Toba Dance




Karonese Traditional Dance





Dembas Simenguda Dance Tapanuli




http://myindonesianculture.blogspot.com/2008/01/music-of-north-sumatra.html
www.thejeo.blogspot.com

China: Classical Instrumental Music


There are increasingly many recordings of Chinese music. I have heard most of those produced in Europe or North America, and am starting to be able to hear those from China, Hong Kong & Taiwan as well. In the latter case, there is a large variety as well as some difficulty obtaining them, so I will concentrate entirely on the so-called literati music which is my priority. Returning to more generally available recordings, many are orchestral of various types, and so of lesser interest to me. There are also some song recordings, but I have not explored those as much. Somewhat unusually, instrumental performance has long had a certain kind of pre-eminence in Chinese art music, as scholars of all disciplines were expected to become proficient in it.
Chinese music is basically pentatonic-diatonic, meaning that the basic pentatonic scale can be modulated within a diatonic context. The theory talks of 12-notes to an octave, but most of the compositions are overwhelmingly pentatonic with diatonic/chromatic passing tones. This is even more true of the traditional orchestral music than of the more intricate scholarly music which makes up most of this page. Generally speaking, the Chinese tunes with which many readers will be familiar are much simpler than most of what appears here.
Solo instrumental performance is the most serious musical genre, and will be emphasized here. The best performances should bring out harmony with one's surroundings, although at times a more aggressive tone is used. The intonation is very subtle, and generally similar to poetic recitation. The music itself is clearly designed to be an abstract complement to the highly-developed poetic genres, and bears similar titles. The prominence of poetry & the aphorism might help explain the restricted impact of vocal art music.
There are rather few classical compositions, although each instrument has its own repertory. Some of these repertories are several centuries old, and musicians add to them only slowly, especially in some areas. Therefore many compositions will be repeated from CD to CD, mostly for the same instrument, but sometimes versions exist for more than one instrument. Also, a performance by a musician from a different lineage will often bring out different facets.
I will especially emphasize qin music, and look to buy many such recordings. Now there are literally dozens available, of very high quality. The qin section is consequently large, and increasingly becomes a priority. In other areas, I intend to keep representative samples up to date, but have largely stopped putting in similar effort.

Anthologies still provide the easiest way to experience Chinese art music, as the variety of instruments and styles can be surveyed in one recording. Although that will not be the focus here, experiencing different instrument combinations is certainly recommended for a full appreciation. The finest general anthologies are probably those on Ocora Radio France, Wind Records, and the set on Celestial Harmonies reissued from the Hugo label (some of which will appear below).
All of the suggested recordings below are modern and of good production quality. Fortunately, the situation with music produced in China is much better in this respect than with that produced in India, so there is no real conflict between recording & musical quality. There are now several recordings which are extremely compelling in all aspects.

Qin

The seven-(historically five- or ten-)string zither, qin, is considered to be the supreme instrument of the scholar. The compositions make use of a wide range of timbral effects. Its repertory consists of approximately 600 pieces, including some dating to pre-Han times. Playable instruments survive from as early as the T'ang Dynasty. The system of tabulature notation was invented in the T'ang period, replacing an older system in which a piece was described entirely in words (some of these sources survive). This marks one point in the development of the repertory. The next came with proper printing which began in the Sung & Ming eras, and so makes it possible for the first time to securely date versions in the modern sense. New items are slowly added to the repertory, and some rhythmic interpretations are now given in Western notation in supplement to tabulature. This instrument continues to provide the main musical representation of the literati culture.
The instrument speaks to me particularly strongly. The guqin presents an exceptional richness of timbre and subtlety of articulation, along with a repertory refined over centuries. The music is quite sophisticated and dense in ideas, and presents a real opportunity for "interpretation" by a range of fine musicians. This section will be particularly extensive.
The first items to be listed are multi-CD anthologies recorded at qin conferences. This is a rather unique phenomenon, in which performers on the instrument routinely congregate in one location. The synergy developed can be quite remarkable, and the recording productions made over a couple of days at the conferences can illustrate the best pieces by some of the top performers present. In some sense, these programs are not anthologies, since they are recorded at the same location during the same sessions, often with the other performers in attendance.
The Art of Qin Music, Vol. 1
Hugo HRP 7136
The Art of Qin Music, Vol. 2
Hugo HRP 7137
The Art of Qin Music, Vol. 3
Hugo HRP 7138
The Eminent Pieces for Chinese Guqin, Vol. 1
Wild Swan of Autumn Wind Records TCD-1015
The Eminent Pieces for Chinese Guqin, Vol. 2
Misty Rivers of Xiao Xiang Wind Records TCD-1016
The Eminent Pieces for Chinese Guqin, Vol. 3
Music of King Wen Wind Records TCD-1017
The Eminent Pieces for Chinese Guqin, Vol. 4
Missing an Old Friend Wind Records TCD-1018
These are the two such conference anthologies on CD, and each is remarkably compelling. Either set makes an obvious first place to go in order to build an appreciation of this instrument and its music.

Individual recitals

Of course, individual recitals are an opportunity for a performer to present a personal style in more extensive detail. In this sense they can be more compelling, although learning even a handful of qin pieces to the level of mastery sought can be a long process. I have selected several individual recitals whose styles are particularly compelling to me.
Selections in order of performer seniority:
Guangling Qin Music, Vol. 1
Zhang Zi-Qian Hugo HRP 7139
Wumen Qin Music
Wu Zhao-Ji Hugo HRP 712
Shu (Sichuan) Qin Music, Vol. 2
Yu Bo-Sun (Disc I) Hugo HRP 7131
Guqin
The Art of Yao Gongbai World Music Library 5232
Shu (Sichuan) Qin Music, Vol. 3
Zeng Cheng-Wei Hugo HRP 7133
Guangling Qin Music, Vol. 3
Dai Xiao-Lian Hugo HRP 7141
I have been selective for this list, just as on other pages, but believe it does also represent the variety available in performance fairly well. However, there are many other recordings of high merit which could be listed, so it is not exhaustive in that sense. I intend to continue to explore new recordings as they appear and make some adjustments in the list.
The range of articulation for this instrument gives rise to a rather striking variety of performance styles, especially as regards the two aspects of "vibrato" yin & nao (the former narrow and buzzing, and the latter longer and twang-like). The approach to rhythm also differs markedly between the different qin lineages, although the styles have been coming together in the hands of younger performers.

Zheng

The zheng is a movable-bridge zither, and the most dynamic solo instrument in China. Its repertory ranges widely, from ancient pieces in a style similar to those for qin, to various regional styles related to folk songs & operas, and on to a large body of newly-composed music for the instrument. The technique can be quite complex, especially in the newer music. A very traditional and refined selection:
Lotus - Han Zheng Music
Rao Ningxin Hugo HRP 704
This is the most characteristic instrument of the Chinese classical orchestra, described in writing as early as the Han Dynasty, and found in variants thoughout the area. Instruments of similar heritiage and design include the Japanese koto, as well as important instruments in Korea and Vietnam. Some traditional models have 13 to 16 strings, whereas more modern designs can have as many as 30 strings. The 21-string variety is now considered the standard.

Pipa

The pipa is a pear-shaped lute-like instrument with large frets and a broad finger-board. It was introduced into China from Central Asia prior to the T'ang Dynasty, and has both a "literary" and a "martial" repertory. This fine recording illustrates both:
Chine: L'art du pipa
Lin Shicheng Ocora (Radio France) C 560046
In this case, there are other recordings available on Western labels, although the present one is still preferred. I have seen none from China itself, oddly enough.

Xiao

Although it has a very long history going back to Han times and beyond, the xiao has been slow to develop a solo repertory. It is a vertically-held bamboo flute, and the only instrument appropriate for accompanying the qin, as it is suited to music of similar depth and restraint. The following recording includes some superlative solo tracks:
Chinese Tung-Hsiao
The Art of Tong Ku-Chiun Wind Records TCD-1007
Besides the vertical flute xiao, there is also the side-blown flute di which has a very large repertory oriented mostly toward spritely & operatic music. It is often used in small ensemble situations, and there are some quality recordings featuring it, including on Western labels.

source: medieval.org
Delicious : musicmusic classicalmusic chinese

Central Javanese Gamelan

javanese gamelan

Indonesia is a big country, consisting of many cultures with many musical traditions. The biggest culture, with the most highly refined musical tradition, is that of the Javanese. The island of Bali also supports a distinct classical tradition. The music of other cultures has also been recorded, but I will not be dealing with that, as it has more the character of folk art.

Since many readers are apparently less familiar with the Javanese cultural setting (as opposed to India, China or Iran), I will discuss this background before proceeding to the list of recordings. The language we call Javanese is spoken in the central and eastern parts of the island of Java. The western part is Sundanese (from which there are also a few recordings, not to be discussed). Javanese is a very complicated language, consisting of three distinct vocabularies and grammars to be used with those in superior, equal, or inferior social positions with respect to the speaker. The national language of Indonesia is a modern construction, designed for simplicity and easy use by the wide array of different cultures within its boundaries.

Prior to the European period, Javanese was the dominant culture of the region, at times holding hegemony in parts of the Asian mainland. For instance, in the early-medieval history of what is now Cambodia, a restoration of the traditional monarchy was heralded by the arrival of a prince from Java to take the kingship. During the Mongol era, a large invasion fleet (much larger than that sent to Japan) was sent to Java, only to be soundly thrashed at sea, without a landing. This will give the reader some idea of the Javanese strength, but it should also be noted that this hegemony was generally not expressed through military means (at least insofar as we understand it), but rather as cultural and trading superiority. Of course, this situation was drastically modified by the arrival of the Arab traders.

Indonesia is counted as the most populous Muslim nation in the world, but this is somewhat misleading. Islam is not a "state religion" as it is in many Islamic countries, and there is quite a bit of variety, although the majority of inhabitants do profess Islamic beliefs. Among the larger cultures, North Sumatra is the "most" Muslim; in fact, it was home to a major Islamic University (known, for instance, in China) during the later medieval era. Java is also Islamic, in the sense that the people believe in many of the tenets of Islam and identify themselves as Muslims, but there are also other simultaneous belief systems. Prior to Islam, Java was alternately Hindu and Buddhist (and Bali remains Hindu), and these beliefs continue to be important for Muslim people. There is also an older layer of native religious practice which is still alive and well. Javanese religion is termed "syncretistic" (i.e., combining various influences), and it is generally only our tendency to give priority to the monotheistic religions which yields the Javanese the designation of "Islamic" per se. Of course, the influence of Islam should not be understated either.

The above discussion of syncretism should not give the impression that Java is an area of religious conflict. The different belief systems have been molded into a coherent whole, and the various public rituals (like the calendar with its simultaneous cycles of five and seven days, i.e. these coincide every thirty-five days) are thoroughly ingrained throughout the Javanese population (of course, as we know, the "Europeanized elite" frequently have different ideas). The Sanskrit classic epic Mahabharata continues to be a huge cultural influence on Java (it is easily apparent from the simple fact that many personal names are taken from that text, etc.) and the shadow puppet theater based on episodes from this epic is one of the most distinctive and wide-spread Javanese cultural practices. The gamelan is always used to accompany these plays (wayang kulit). The classical dance forms of Indonesia are also attaining some level of popularity in the USA (you could have seen them regularly in the Rose Bowl Parade, for instance), and much of the court music was written to accompany dance. There is also a large and impressive body of surviving classical literature on various topics, usually written in verse (including a verse encyclopedia, if you can imagine...).

The gamelan orchestra, based on metallic percussion with some wooden xylophones and drums, is well-known to many readers. In various forms, it is ubiquitous to Southeast Asia. In Java, the full gamelan also adds a bowed-string instrument (the rebab, a name illustrative of Islamic influence), a bamboo flute (suling) and voices. The rebab is one of the main melodic instruments, together with the bronze xylophone "gender," and is often played by the senior musician to lead the ensemble. Voices consist of male (and sometimes female) choruses called gerong, together with female soloists called pesindhen. However, the voices are not used as "lead" instruments in court gamelan (as opposed to wayang kulit, shadow puppet theater) and blend with or complement the sound. More specifically, the chorus is very much a part of the texture, whereas the soloist has an almost-separate improvisatory role, including the use of notes outside of the mode of the piece. In these abstract pieces, mostly "gendhing" on the current list, the words are largely secondary to the music.

This list of recordings is devoted to court gamelan. There are four royal courts (kratons) in Central Java, two each in Surakarta (Solo) and Yogyakarta. Returning briefly to history... when the Dutch took over the Southeast Asian trade and established themselves in Java (Sunda, actually), their policy was not to destroy the royal court, but to isolate it. In other words, they did everything they could to remove any political influence from the sultans, but allowed the court to remain as a cultural institution (which had always been a large part of its role, perhaps analogous to the Chinese Emperor). Much later, the court (originally in Solo) divided into four, due to philosophical differences (of aesthetic) in the royal house, and with encouragement from the Dutch. The kratons continue to serve as cultural and educational institutions, and house the classical music tradition of Java. Each court has a huge roster of musicians and an extensive collection of historical instruments. Today many of these musicians also have jobs outside their kraton, but this was not true in the recent past. Despite what any of this discussion might imply, the music itself is extremely coherent. It shows no sign of mixed objectives, but is rather a "pure" style. The repertory is vast.

There are two scales in Javanese gamelan music, "slendro" (pentatonic) and "pelog" (heptatonic-pentatonic). Tuning is not standard, rather each gamelan set will have a distinctive tuning. A complete gamelan consists of a pair of sets, one tuned in each of the scales and intended to be played together in many instances. Different gamelan sets have different sonorities, and are used for different pieces of music; many are very old, and used for only one specific piece. Musical forms are defined by the rhythmic cycles. These consist of major cycles subdivided by smaller cycles, each marked by the striking of successively smaller gongs. The melodic interplay takes place within this framework (technically called "colotomic"). There are also distinct melodic modes ("pathet") within the division of scale, three for each of the scales. The modes are defined according to which notes of the scale are emphasized, much like the vadi/samvadi concept in Indian classical music.


medieval.org 
Delicious : musicinstrumentjavaneseindonesianculture

10 Musisi Handal Nyanyikan Lagu Religi Saat Ramadhan

1. Bimbo
Grup musik tahun 1960-an , Bimbo yang merupakan grup keluarga ini identik dengan lagu-lagu balada cenderung lirik-lirik puitis dan religi. Lagu Tuhan merupakan lagu yang sering didengar saat Ramdhan, menyentuh dan menjadikan kita ingat akan Tuhan...

2. Haddad Alwi
Seorang penyanyi religi Indonesia yang sukses dengan Album Cinta Rasul ini ingin mengajak anak-anak sekecil mungkin mengenal agama Islam lebih jauh.

3. Raihan
Grup Nasyid asal Malaysia mulai debutnya dengan Album Puji-pujian. Lagu yang pasti sering kamu dengar dan ikut bersenandung saat mendengarnya. Nggak hanya itu ternyata ada album Demi Masa yang laku keras di Indonesia.

4. Opick
Terkenal dengan sorban putihnya yang menghiasi kepala, lagu-lagu Opick bisa menyentuh hati. Lagu Istighfar di tahun 2005 sukses menggaung di mana-mana. Nggak hanya itu, Opick juga pandai menciptakan lagu religi untuk musisi lain seperti Amanda dan Melly Goeslaw.

5. Snada
Grup nasyid Snada bisa menciptakan tim-tim nasyid muda yang bermunculan. Mereka bisa menyebarkan agama melalui sekolah, kampus, pernikahan, dan acara lainnya. Jagalah Hati merupakan lagu Snada yang paling booming.


6. Sulis
Bocah cilik yang melejit namanya dengan lagu Cinta Rosul setelah berduet dengan Haddad Alwi ini tetap konsisten di jalur musik religi. Sudah banyak album yang ditelurkan oleh penyanyi perempuan berjilbab ini.

7. Debu
Grup band nasyid Debu sukses menyiarkan agama islam di Indonesia, padahal mereka bukan orang Indonesia. Lagu-lagu dan musiknya pun selalu menceritakan kedamaian, cinta dan kerinduan pada sang pencipta.

8. Gigi
Band asal Bandung ini sukses mengajak anak muda dengan musiknya bernyanyi lagu religi. Gaya khas sang vokalis tidak menjadikan lagu mereka seolah-olah menasehati. Lagu Pintu Surga dan Perdamaian sukses di pasaran dan bisa diterima masyarakat meski musik mereka tetap seperti Gigi apa adanya.

9. Ungu
Bukan cuma Gigi, band Ungu juga mengeluarkan album religi. Lagu-laguya yang mendayu membuat hati terasa tenang saat mendengarnya. Berkolaborasi dengan Ustad Jeffry (UJ) lagu Para Pencari-Mu sangat sukses dipasaran.

10. Wali
Background personil yang kuat dalam pemahaman agama, band Wali juga sukses mengajak kita untuk mendengarkan musik-musik religi. Lagu shalawat dan Ingat solat membuat pendengar ikut bernyanyyi dan tergugah dengan lirik indahnya.

rileks.com
www.thejeo.blogspot.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews