English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google
Showing posts with label jeo music. Show all posts
Showing posts with label jeo music. Show all posts

Meeghan Henry Tirtasaputra: Semakin Berkibar di Blantika Musik AS

Dalam upayanya menjadi entertainer di industri hiburan, Meeghan Henry Tirtasaputra percaya bahwa tak ada mimpi yang mustahil jika kita mau berusaha. Alhasil, remaja asal Indonesia ini menembus bursa musik di Hollywood, Amerika Serikat.
Meskipun penjualan album Meeghan hanya lewat iTunes dan menggandeng label independen Wright Records Inc., namun single debutnya yang berjudul When I`m 18 yang merupakan lagu ciptaannya sendiri mendapatkan perhatian di Hollywood. Dengan video klip debut single-nya itu, Meeghan masuk nominasi di Hollywood Music Media Awards dalam kategori The Best Music Video 2010.
Klip lagu Meeghan dinilai kreatif dan terintegritas secara visual dalam sebuah karya video. Disutradarai oleh Li Lu dan diproduksi oleh Hugh Hung, dua lulusan University of Southern California, pengambilan gambar “When I’m 18″ berhasil mengajak penonton ke dalam imajinasi seorang gadis remaja (Meeghan) yang bersemangat, memiliki mimpi, namun tetap trendi dan menyenangkan.
Sejak Meeghan merilis “When I’am 18″di akhir bulan Juli, lagu itu telah tersedia dalam versi rock dan pop melalui iTunes (http://itunes.apple.com/us/artist/meeghan-henry/ id367070414). Meeghan juga telah merilis single lain berjudul “Fallin’ for You,” diproduksi oleh CMINOR (Timotius Zimnoch) dan telah diposting di iTunes dalam versi bahasa Inggris pada tanggal 15 September lalu. Rencananya versi bahasa Indonesia “Fallin’ for You” (“Jatuh Cinta“) akan tersedia di iTunes.
Berita terbaru, Meeghan Henry terpilih sebagai nominasi dalam dua ajang musik sekaligus, Independent Music Network (IMN) Awards dan New Music Awards. Ia berhasil meraup nominasi dalam Independent Music Network Awards untuk tiga kategori utama, yakni pendatang baru terbaik, video terfavorit (single “When I’m 18”) dan artis terbaik.
“Untuk seorang gadis muda seperti Meeghan Henry, cukup setahun bagi kami mengenali bakat dan prestasinya,“ ujar Gary Hendrix, pimpinan Independent Music Network Awards akhir November lalu.
Pada Januari 2011, pengumuman pemenang Independent Music Network Awards akan dilakukan. “Tentu ini sebuah kejutan bagi saya, dan saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah mendukung saya,” ujar Meeghan. “Saya sangat senang IMN memberikan apresiasi ini kepada saya.”
Selain meraih nominasi dalam Independent Music Network Awards, penyanyi kelahiran Indonesia ini juga menjadi nominee “The 40 Breakthrough Artist of the Year” dalam ajang penghargaan New Music Awards yang diadakan oleh majalah mingguan New Music LA.
Dua lagu Meeghan, “When I’m 18” dan “Fallin ‘For You,” tercatat dalam tracklist NMW pada tahun 2010. Bahkan single “Fallin ‘For You,” telah mengudara secara nasional di Amerika dan bertengger pada posisi 52 dalam “100 Hot New Music Weekly Chart Video.”  Kekuatan dua lagu ciptaan Meeghan itu yang membuatnya dinominasikan sebagai “The 40 Breakthrough Artist of the Year”.
Meeghan pun menuturkan ketidaksabarannya menanti pengumuman pemenang pada Januari nanti, “Saya bahagia dan merasa terhormat menjadi nominasi New Music Awards, saya ingin berterima kasih kepada New Music Weekly, radio dan semua penggemar saya.”

Sumber: Liputan6.com

Theater Company Tulang Punggung Musikal Laskar Pelangi

Theater Company Tulang Punggung Musikal Laskar Pelangi
Selama 4 bulan terakhir, Theater Company menjadi tulang punggung persiapan pertunjukan MUSIKAL LASKAR PELANGI. Latihan dilakukan selama 8 jam setiap harinya, dengan 2 hari libur setiap minggu. Evaluasi dilakukan dari waktu ke waktu untuk memastikan setiap pemain menguasai tahap dengan baik dan mencapai target latihan yang diharapkan.
"Awal Theater Company adalah saran dari Erwin Gutawa untuk memenuhi keinginan kami untuk mempunyai tim yang dapat membantu para kreator (produser, sutradara, koreografer dan komposer) dalam mempersiapkan pertunjukan MUSIKAL LASKAR PELANGI. Tim ini bekerja bersama kami menciptakan gerakan dan akting yang sempurna, yang menggambarkan masing-masing tokoh LASKAR PELANGI," pungkas Toto Arto.
Dalam proses latihan MUSIKAL LASKAR PELANGI, tidak jarang sutradara Riri Riza mengubah pengadeganan, Mira Lesmana menyesuaikan kembali lirik lagu, dan Hartati mengubah koreografi. Toto Arto yang bertindak sebagai produser bersama Mira Lesmana menambahkan bahwa proses ini semakin efisien dengan adanya Theater Company.
"Proses ini menjadi sangat efisien dengan adanya Theater Company, di mana para kreator bisa dengan leluasa membentuk adegan sesuai dengan harapan," jelas Toto Arto.
Di bawah arahan Riri Riza, Erwin Gutawa, dan Hartati, Theater Company Musikal Laskar Pelangi menyiapkan adegan para anak-anak LASKAR PELANGI dan kehidupan masyarakat Gantong. Adegan yang telah matang kemudian dipertunjukkan di hadapan pemeran anak-anak sehingga mereka paham seperti apa gerakan yang diharapkan.
"Peran Theater Company sangat penting karena membantu anak-anak memahami dan memiliki interpretasi yang sama dalam hal akting dan gerakan. Selanjutnya anak-anak dapat dapat mengembangkan aktingnya sendiri," Mira menambahkan.
kapanlagi.com

Sandhy Sondoro Sebar Pesan Cinta Damai

Jakarta- Vokalis dan pencipta lagu Sandhy Sondoro bermaksud menyebarkan pesan cinta damai secara halus melalui lirik lagu-lagu dalam album ketiganya atau album pertamanya di Indonesia.
"Ini album baru saya, judulnya self titled, Sandhy Sondoro. Message-nya, one love, bukan cuma cinta antardua manusia, melainkan juga tentang kedamaian," tutur vokalis soul dan blues ini mengupas album barunya tersebut.
Sebagai pria asal Indonesia yang bertempat tinggal dan berkarier di Jerman, ada alasan khusus yang membuatnya menyampaikan pesan cinta damai lewat albumnya itu. "Saya sebagai minoritas di Jerman pernah merasakan dan tahu banget bagaimana dirasiskan oleh orang lain," jelas lelaki yang juga main gitar ini.
Ada 12 lagu berlirik bahasa Inggris dan dua lagu baru berlirik bahasa Indonesia dalam albumnya itu. "Album ini adalah album ketiga dari saya. Ini album yang berisi 14 lagu. Dua belas (12) lagu dari album  awal saya dan dua lagu baru. Alasan mengapa berbahasa Inggris, karena saya masih eksis di Jerman dan bahasa Inggris itu mendunia," jelasnya lagi. "Mimpi saya masih panjang dan saya bukan tidak menghargai bahasa Indonesia," tekannya.
Sandhy mengedepankan "Bunga Mimpi" dan "Salamanja" sebagai single-single-nya.
Ke depan, vokalis yang berhasil mencuri perhatian produser musik dan pencipta lagu internasional asal AS Diane Warren ini masih memiliki mimpi yang ingin digapainya. "Saya mau tinggal di Brasil atau Istambul (Turki), karena saya ingin musik saya berkembang terus. Saya enggak mau seperti musisi lain, yang setelah tua frustrasi, karena musiknya begitu-begitu saja," tutup Sandhy.
kompas.com

Lirik Lagu Enda Ungu Maafkan Aku

Lirik Lagu Enda Ungu – Maafkan Aku :
intro :
Tak bisa kulupa.. saat-saat indah bersama mu..
Semua cerita.. mungkin kini hanya tinggal kenangan..
Ku harus pergi.. meninggalkanmu di dalam sepiku..
Bukan inginku.. tuk menyakiti perasaanku..
Maafkan aku..
intro :
Maafkan aku.. yang tak bisa menunggu hatimu..
Lupakan saja.. diriku untuk selama-lamanya..
Kuharus pergi.. meninggalkanmu di dalam sepiku..
Bukan inginku.. tuk menyakiti perasaanmu..
Maafkan aku..
Reff :
Tidurlah sayangku..
Mentari tlah menunggu..
Sambutlah pagi nanti..
Dengan hati tersenyum..
Bermimpilah cinta..
Dengan segenap rasa..
Kini tibalah saatnya.. kita harus berpisah..
Melodi :
Reff :
Tidurlah sayangku..
Mentari tlah menunggu..
Sambutlah pagi nanti..
Dengan hati tersenyum..
Bermimpilah cinta..
Dengan segenap rasa..
Kini tibalah saatnya.. kita harus berpisah..
Maafkanlah aku.. yang tak bisa menunggu..
Lupakan saja diriku.. untuk selama-lamanya..
aa.. haaa.. aaa.. huuuu…
www.thejeo.blogspot.com

Hip Hop Muslim dari AS Mulai Tur di Jakarta

Jakarta - Kelompok Remarkable Current asal Amerika Serikat yang beraliran hip hop ditunjuk sebagai duta musik Muslim Amerika Serikat melalui program "Performance Art Initiative" yang diadakan Selasa (21/9/2010) di Jakarta.
Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel sempat memberikan sambutan kepada para tamu undangan sekaligus membuka acara konser mini di halaman rumahnya dan ikut menikmati musik hingga terbawa suasana meriah yang berlangsung malam itu.
Acara dimulai dengan pertunjukan musik oleh Remarkable Current dan dihadiri beberapa perwakilan dari kalangan Muslim Indonesia, peserta yang diundang melalui situs Facebook, serta sejumlah artis yang dianggap mewakili suara kaum muda.
"Kami mengundang perwakilan-perwakilan kelompok Islam Indonesia dan anak-anak muda karena memang acaranya lebih cocok untuk anak muda," kata seorang pejabat kultural senior Kedubes AS.
Kelompok yang beranggotakan dua penyanyi rap hip hop, Tyson dan Kumasi, seorang DJ Arnas Canon, dan drummer Erik Rico itu akan melangsungkan tur di kota-kota besar di Indonesia atas undangan Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Dengan inspirasi dari program Departemen Luar Negeri AS untuk mengirim utusan musik dengan diplomasi jazz melalui diplomasi kebudayaannya, Remarkable Current membawa lirik-lirik hip hop yang penuh arti dan makna.
Mereka bertujuan menyuarakan kepada komunitas global bahwa Amerika dan Islam bukan sesuatu yang eksklusif dan turut berperan serta membantu tanggung jawab Presiden Amerika dalam menghilangkan sterotipe negatif tentang Islam di mana pun berada, seperti ditulis rilis Kedubes Amerika.
Seperti halnya Dizzy Gillespie dan Louis Amstrong yang menjadi Duta Jazz pada abad ke-20, Remarkable Current menjadi Duta Hip Hop abad ke-21 dengan misi membangun pemahaman dan kepedulian akan keragaman Amerika melalui musik yang juga bersahabat dengan anak muda masa kini.
Keberadaan Duta Hip Hop Muslim Amerika ini dipandang sangat penting dalam membantu proses hubungan dengan negara-negara mayoritas Muslim di tengah "era baru" Amerika Serikat dalam hubungan internasionalnya, seperti ditulis dalam rilis media dari pihak Kedubes.
Perjalanan Remarkable Current dimulai pada tahun 2001 ketika sekelompok pertemanan di lingkungan tempat tinggal tumbuh menyatukan tujuan untuk secara kreatif membentuk identitas kaum Muslim Amerika dan berbagi dengan masyarakat dunia.
Remarkable Current yang didirikan dan dipimpin Anas Canon telah melakukan tur ke seluruh penjuru dunia, mulai dari Amerika, Eropa, Afrika, hingga Timur Tengah.
Canon, yang belum lama ini masuk ke dalam edisi pertama 500 Muslim paling berpengaruh dalam sebuah publikasi The Prince Alwaleed bin Talaal Center for Muslim-Christian Understanding dari Georgetown University, telah bekerja sama dengan ratusan artis berbakat dan merilis lebih dari sepuluh album.
Gaya musik Remarkable Current mencerminkan latar belakang artis yang sangat beragam, tetapi fokus musiknya adalah perkotaan yang dipengaruhi aliran rock, jazz, dan musik tradisional di dunia.
Kelompok pemusik ini dijadwalkan akan melakukan serangkaian konsernya di Jakarta (22-24 September), Padang (25-26 September), Medan (26-28 September), dan Surabaya (29-30 September).
Penampilan mereka di Surabaya akan menjadi lebih menarik karena direncanakan kelompok hip hop tersebut akan berkolaborasi dengan salah satu kelompok pengusung aliran hip hop Tanah Air, Saykoji.
Remarkable Current juga terpesona dengan keramahan warga Indonesia yang menyambut kedatangan mereka dan merasa banyak kesamaan antara Muslim Indonesia dan Amerika.
"Kami ada di sini karena undangan Kedubes Amerika dan bermaksud menyampaikan pesan bahwa Islam diterima secara luas di Amerika walaupun masih sedikit warga di sana yang tahu tentang Islam secara komprehensif," demikian dikatakan Arnas.
kompas.com
www.thejeo.blogspot.com

Teguh Sukaryo, 15 Besar Pianist Dunia

Teguh Sukaryo, Seorang Pianist Tanah Air yang telah menciptakan berbagai Harmony -harmony indah dan telah di akui oleh Dunia lewat karya -karya instrument nya, dirinya telah menjadi pianis terbaik yang mengalahkan para pianis dari 26 negara a.l. Jerman, AS, Italia, Prancis, China, dan Jepang.Namun Sayang, sosok Teguh belum begitu akrab terdengar bagi kaum kaum awam di Indonesia,
Sukaryo mendapat pujian dari banyak negara karena menampilkan harmoni, emosi dan teknis sempurna. Sentuhan jarinya pernah membius pendengar di Belanda ketika dipancarluaskan lewat radio dan televisi.
Teguh Sukaryo belajar piano pada sejumlah suhu a.l. Jon Kimura Parker, Peter Takacs, Michael Gurt, dan Carmel Lutton. Dia juga sempat ditangani Byron Janis dan Einar-Steen Nokleberg.
Kemampuan peraih beasiswa Joseph and Ida Kirkland Mullen itu kini ditularkan pada beberapa pianis a.l. Paul Polivnick, Anton Krager, dan Frank Wickes. Selain itu dia aktif mengajar di Rice University Preparatory Program.
Sukaryo lulus dengan predikat BMus untuk Penampilan Piano dari Sekolah Musik Newcastle (NSW) Australia pada 1998. Dari tempat itu dia meraih penghargaan tertinggi untuk penampilannya.
Empat tahun lalu Sukaryo meraih gelar Beethoven Prize di ajang Grieg International Competition for Pianists di Oslo, Norwegia dan berhak atas beasiswa penuh ke sekolah musik top di AS, Oberlin Conservatory.
source : dari berbagai sumber

Berikut ulasan sekilas tentang sosok Teguh Sukaryo.
BIOGRAPHY OF TEGUH SUKARYO, Concert Pianist
(Versi Bahasa Indonesia)

Adalah kecintaan yang sejati terhadap musik, yang dipadukan dengan talenta, hasrat artistic, cita rasa, kejujuran dan kerendahan hati, yang telah membawa Teguh Sukaryo untuk tampil di berbagai negara, termasuk USA, Eropa dan Australia. Misinya adalah untuk menyentuh setiap hati dengan lembut dan rasa kepedulian, seperti yang diimpikannya: “Dunia yang harmonis, berlimpah kedamaian, cinta dan suka cita”. Sembari mengejar misi ini, berbagai media dan kritik turut memberi kesaksian perihal karya Teguh:

“Master pianist. Teguh Sukaryo gave phenomenal recital. He showed fabulous technique and sensibility. Great imagination..with temperament and visible passion.” Airplay Radio en IJssellandTV, Netherlands

“Tremendous personality. Wonderful imagination.” Byron Janis, legendary pianist

"Marvelous,...a gem,..an example of grand. Teguh has the fantasia and technique to reach to the Absolute Top" NoordHollands Dagblad

“Now captivating..now hypnotizing” Kompas, Indonesia

"Climactic craze. Electrifying and full of spirit" Koran Tempo

“An enchanting piano playing which travels through time and space…striking and very memorable” Arts Indonesia

“A Star. World class pianist.” Suara Merdeka

“World top 15” Bali Post

"World Master Pianist, Perfect Presentation of Combined Harmony and Emotion. Anesthetized music lovers. The sound he produced was a reminiscence of beautiful symphony" Kaltim Post


Teguh Sukaryo lulus S1 pada bidang Piano Performance dari Newcastle Conservatorium of Music, Australia. Disana dia mengambil Double Performance Strand dan selalu mendapat nilai tertinggi, yaitu High Distinction. Dikenal memiliki kemampuan artistry tinggi dan teknik yang handal, Teguh menperoleh beasiswa penuh dan berbagai penghargaan untuk melanjutkan seluruh studinya di USA, seperti di sekolah-sekolah terkemuka: Oberlin Conservatory, yang mana dia mendapat gelar Artist Diploma; Rice University/Shepherd School of Music, Master of Music; and Louisiana State University, tempat Teguh sedang menyelesaikan gelar Doktoralnya (DMA, Doctorate of Musical Arts). Tahun 1997, Teguh memperoleh Top Prize di Armidale Open Piano Competition, NSW, Australia; Tahun 2000, Chamber Music Scholarship and award di Sewanee Summer Music Festival, USA; Tahun 2005, “Beethoven Prize” di Grieg International Competition for Pianists, di Oslo.

Teguh Sukaryo belajar dengan pianist kenamaan dan guru besar di Amerika, Eropa dan Australia, antara lain Jon Kimura Parker, Peter Takacs, Michael Gurt, and Carmel Lutton. Teguh juga dilatih oleh pianist legendaris Byron Janis dan Einar Steen-Nokleberg. Selain dibidang piano, Teguh juga menekuni dunia conducting. Guru-gurunya antara lain Prof. Paul Polivnick, Prof. Anton Krager, dan Prof. Frank Wickes.

Bakat dan dedikasi Teguh dalam dunia pendidikan musik juga sangat kuat. Teguh sering memberi workshop dan masterclass di berbagai tempat, baik di dalam maupun luar negeri. Seorang Joseph and Ida Kirkland Mullen Fellow, Teguh telah mengajar di department Prepatory Program di Rice University, Houston, USA. Banyak murid-murid yang terinspirasi dan mendapat nilai tertinggi pada ujian akhir tahun mereka. Diantaranya berhasil lolos audisi masuk di konservatori-konservatori bergengsi di Amerika Serikat.

CD perdana Teguh yang berjudul “Teguh Sukaryo plays Mompou, Brahms, & Mussorgsky” tersedia di took-toko CD, dan mendapat sambutan hangat dari para pencinta music klasik di tanah air. Menyusul segera tahun ini 3 (tiga) CD baru Teguh yang berjudul “Scenes of Childhood”, “Burgmuller Op. 100” dan “Burgmuller op. 109” lengkap dengan partiturnya.

Teguh lahir dan besar di Purwokerto, Jawa Tengah. Dia mencintai Indonesia, baik budaya dan manusianya. Teguh juga sangat mencintai alam, seni, dan kemanusiaan. Dia suka bergaul dengan siapa saja dan dengan semua kalangan. Tahun 2010 Teguh mengadakan Nusantara Tour 2010 diberbagai kota di Indonesia, termasuk Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, Denpasar, Makassar, Balikpapan, Purwokerto, Kupang, dll dalam rangka penyebaran musik klasik di tanah air tercinta Indonesia. Teguh Sukaryo adalah pencipta dan Artistic Director group Musik Klasik Indonesia di facebook. Group dengan lima ribu anggota yang merupakan group musik klasik yang paling aktif, edukatif dan informatif.



http://www.facebook.com/teguh.sukaryo
www.thejo.blogspot.com

Sekolah Gitar Dewa Budjana Jadi Sekolah Musik

Dewa Budjana - Kapanlagi.com
Sudah dua tahun belakangan ini pemain gitar band Gigi, Dewa Budjana aktif berbagi ilmu bersama anak muda yang memang berniat belajar musik. Pengetahuan musik Budjana disalurkan melalui sekolah musiknya, Guitar School of Indonesia (MSI) dan dikembangkan menjadi Music School of Indonesia (MSI).

Menurut Budjana, untuk mengangkat perkembangan musik Indonesia yang lebih maju lagi, dirinya harus berbagi pada orang lain. Banyak pelajaran yang diberikan pada siswanya. Bukan saja memberi materi permainan gitar atau mengasah skill individu, tapi Budjana memberi pengalaman bermusik selama bersama Gigi. Setiap satu bulan sekali, Budjana memberikan workshop.

"Sistemnya tidak seperti sekolah, tapi lebih memberi workshop. Saya juga memberi ruang pribadi pada mereka yang memang serius untuk bermusik," ujar Budjana saat ditemui di acara konferensi pers Grand Launching Music School of Indonesia (MSI) di atrium Plasa Semangi, Jakarta, Minggu (19/9) malam.

Bukan hanya anak muda yang dapat belajar atau mengasah kemampuan memainkan sebuah alat musik, tapi anak-anak dan orang tua pun dipersilakan.

"Banyak orang kantoran yang meluangkan waktu belajar musik. Jadi siapa saja, tidak tertutup orang tua,” ungkapnya.

Budjana beralasan, belajar memainkan alat musik ini bukan saja untuk mengembangkan karier di dunia seni musik, tapi juga sebagai hobi.

"Setiap bulannya kita adakan pentas seni dan semuanya terlibat. Kita juga menghadirkan bintang tahu. Sehingga kemampuan individu semakin terasah,” ujar Budjana

kapanlagi.com 
www.thejeo.blogspot.com
 

The Upstairs: 'SINGLE', Permainan Synthesizer Yang Bernyawa

Tampaknya The Upstairs yang saat ini digawangi Jimi Multhazam (vokal), Andre 'Kubil' Idris (gitar), Pandu Fathoni (bass dan synth), Krishna (keyboards dan synth) dan Beni Adhiantoro (drum) tak ingin berlama-lama untuk meluncurkan karya terbarunya sekaligus sebagai test case personel baru pengganti Alfi Chaniago yang keluar karena mendalami agama dan Dian Marayana yang menikah dan menekuni bisnisnya.
The Upstairs kembali meneror kita untuk berdisko darurat serta berdansa resah dengan single terbarunya yang di sebarkan gratis dan bisa di download di http://theupstairs3.tumblr.com/.
Single ini selain mencantumkan 1 lagu baru yang berjudul Menara Lara ada dua lagu daur ulang Rocketship Goes By dari Goodnight Electric dan satu lagu daerah Sumatera Barat yang populer di tahun 70-an berjudul Kampuang Nan Jauh Di Mato yang dulu juga sempat di populerkan oleh Chiquita Meidy di tahun 90-an.
Track Menara Lara membuka dan menyapa kita dengan beat-beat yang dance able. Dengan permainan synthesizer Krishna yang meruang dan mengisi di setiap celah lagu berpadu dengan petikan gitar Kubil membuat lagu ini tampak padat.
Kali ini tak ada suara latar cewek, dari Dian Marayana yang biasa kita dengar di lagu-lagu The Upstairs sebelumnya dan di ganti dengan suara latar cowok dari Beni dan Pandu, dan ternyata menarik untuk di dengar. Di bagian tengah lagu terdapat jeda musik yang hanya menampilkan solo synthesizer dan diimbuhi dengan solo bass dari Pandu serta penambahan clapping hand yang akan meningkatkan atmosfir energi apabila nanti di mainkan live.
Di track kedua The Upstairs mengkover lagu Rocketship Goes By dari band elektro pop asal Jakarta, Goodnight Electric. Dengan tanpa menghilangkan aransemen pop yang kental, lagu ini dimainkan lebih pelan dan lebih nge-pop dari aslinya yang sedikit bertempo cepat. Permainan synthesizer yang rapat memasuki seluruh celah lagu masih mendominasi.
Dengan bunyi-bunyian yang mengawang-awang memberikan penegasan lagu ini. Hook melodi yang catchy dan tak terlalu rumit menjadikan lagu ini mudah diingat dan disenandungkan. Aransemen musik di lagu ini sangat terasa penghayatannya hingga mudah menangkap makna lagu yang bertemakan patah hati ini. Satu lagi, vokal Jimi berbeda sekali dengan yang biasa kita dengar dan hampir menyerupai dengan penyanyi aslinya Henry Foundation.
Apa jadinya bila lagu daerah seperti Kampuang Nan Jauh Di Mato yang dinyanyikan Oslan Hussein di tahun 70-an di remix dengan musik disco new wave tahun 80an. Dengan nuansa psychedelic dan ruang angkasa yang diperoleh dari bunyi-bunyian synthesizer yang mengisi lagu ini.
Tampak kekuatan 3 single ini berada di permainan synthesizer Krishna yang ciamik dan sangat klop ketika berpadu dengan instrumen lain hingga menjalin chemistry untuk menghasilkan karya yang bagus. Melekat di benak kita ketika mendengar lagu yang dulu dipopulerkan oleh Chiquita Meidy yang dinyanyikan dengan nada ceria menjadi sedikit agak aneh ketika dipoles oleh The Upstairs.
Secara keseluruhan single ini mampu mempresentasikan seperti apa nanti aransemen musik mereka di album terbarunya yang harus kita nanti dan miliki.

Tracklist:
1. Menara Lara
2. Rocketship Goes By (Goodnight Electric Cover)
3. Kampuang Nan Jauh Di Mato
KapanLagi.com - Oleh: Fajar Adhityo

www.thejeo.blogspot.com

Geisha Tak Takut Bersaing dengan Band Pendatang Baru

Jakarta - Dunia musik Indonesia semakin berwarna dengan munculnya band-band pendatang baru dengan aliran musiknya masing-masing. Band asal Pekanbaru, Geisha, mengaku tidak takut dengan persaingan di industri musik Indonesia.

"Kita senang industri punya banyak genre musik, kita jadi terpacu untuk bikin musik yang lebih jagoan lagi. Kita nikmati banget persaingan musik ini," ujar sang vokalis, Momo yang ditemui usai mengisi acara 'Dahsyat', di studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Selasa (21/9/2010).

Band yang berdiri pada Desember 2003 itu mempunyai keinginan untuk terus eksis di blantika musik Indonesia. Untuk itu, Geisha selalu berusaha membuat musik yang mudah diterima pasar tetapi tetap menonjolkan ciri khas musik mereka.

Saat ini band yang terkenal lewat lagu 'Jujurlah Padaku' itu sedang mempersiapkan album kedua. Album terbaru mereka tersebut diperkirakan rampung pada Oktober mendatang.

"Di album ini ada sedikit perbedaan dari album pertama, kita lebih explore dalam hal musikalitas," jelasnya.
music.detikhot.com 
www.thejeo.blogspot.com


Endah N Rhesa Menggarap Afrika dan Karibia

JAKARTA,Duo musik yang terdiri dari istri dan suami Endah N Rhesa telah siap untuk segera meluncurkan album kedua mereka, Look What We've Found. Endah menjanjikan, dalam album kedua itu mereka akan menyajikan lagu-lagu dengan musik bernuansa Afrika dan Karibia.

"Album kedua ini terinspirasi dari daerah pantai dan hutan dan lagu-lagunya bernuansa Afrika dan Karibia,"  terang Endah.

"Tuimbe", single pertama dari album tersebut, direncanakan akan keluar bersamaan dengan rilis album kedua mereka pada 26 September 2010. "(Klip video) single pertama sudah jadi, tinggal disebar aja. Tapi, nanti kita baru lihat kalau CD-nya juga sudah dirilis," sambung Endah.

Diakui oleh Rhesa, dalam album kedua itu mereka masih akan menyuguhkan lagu-lagu berbahasa Inggris. "Bukannya enggak cinta Indonesia, tapi kami memang sudah mengonsep dari awal, tiga album pertama kami merupakan trilogi. Tapi, sekarang kami lagi garap musik untuk film yang disutradarai oleh Eugene Panji dan itu semua berbahasa Indonesia kok," jelasnya.

Endah N Rhesa juga mengatakan bahwa konsep Afrika dan Karibia untuk album tersebut berasal dari pemikiran mereka berdua. Mereka kerap mendengarkan musik-musik yang bernuansa Afrika, seperti musik milik Richard Bona, ketika mengerjakan album itu.
KOMPAS.com
www.thejeo.blogspot.com

Susahnya Jadi Musisi Independen di Indonesia

Semua juga tau kalo jadi musisi independen susah banget. Tapi sebenarnya kenapa sih susah??? Berbeda dengan di luar negeri orang bisa-bisa aja sukses jadi musisi independen? Kenapa di sini ngga bisa?
Mungkin bisa, tapi tingkat kesuksesannya yang berbeza hehe…. Tulisan ini sebenernya tidak akan memberikan solusi apapun sih, tapi coba merangkum apa masalah yang sebenernya terjadi, dan hopefully, suatu hari ada yang bisa memberikan solusinya.
Pertama, kenapa sih mesti Independen? Masalah utamanya adalah karena sebenernya terlalu banyak yang mau jadi musisi, dan ngga semuanya bisa disign di label besar. Masalah keduanya adalah masalah idealisme. Seperti yang kita ketahui, dunia musik mainstream Indonesia sekarang itu super monoton.
Di musik, semua band(atau penyanyi solo) CUMA nyanyiin lagu yang isinya cinta-cintaan melulu. Nadanya mendayu-dayu, udah pengen mati. Temanya kalo ga tuh cewe bikin tergila-gila, patah hati, atau apalah. Iya kan? Padahal kan sebenernya dunia musik ini luas sekali. Banyak banget yang bisa dieksplorasi di sini. Maka muncullah seniman-seniman yang ingin mengusung aliran berbeda. Di musik ada band-band semacam White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca, santamonika, Ballads of the Cliche, Endah n Rhesa.
Nah, kenapa seniman-seniman ini ngga bisa muncul ke permukaan? Ya tentu karena ngga ada major label yang mendukung mereka dong. Semua ini tentang uang gitu. Cuma ‘pemain-pemain’ besar yang bisa mendukung untuk melakukan promosi yang sinting. Tapi kemudian band band seperti White Shoes dan Efek Rumah Kaca membuktikan bahwa mereka punya penggemar. Bahkan musik White Shoes bisa diterima di amerika. Tapi kenapa tetep independen?
Kemungkinan para produser adalah sumber utamanya. Para produser ini sudah punya pakem tersendiri untuk membuat sebuah band yang sukses. Jadi intinya, kalo mereka liat band baru, yang mereka liat bukan ‘wah, ni band keren. harus lebih banyak yang tau’, melainkan ‘wah, potensial jadi sumber duit baru ni’ hehe….
Apakah pikiran kayak gitu salah? Ya ngga sih. secara harus hidup gitu loh, gimana juga. Tapi hal semacam ini sangat merugikan bagi band-band yang punya idealisme. Antara musik mereka dianggap tidak menjual, atau musik mereka bisa menjual ASALKAN mereka mau musiknya diutak atik. Nah, masalah diutak atik ini berat. Seorang seniman kan bikin karya ada alesannya. Ada sesuatu yang personal di sana. Gimana rasanya kalo tiba-tiba seorang produser tiba-tiba dateng dan bilang “gw ga suka liriknya kayak gitu. ngga ngejual. ganti lah”.
Blum lagi masalah kebebasan berekspresi. Kemarin gua baru baca tulisan(omelan sih tepatnya) Mbak Endah Widiastuti di Facebook. Intinya ada seorang produser liat mereka main trus mereka minta Endah n Rhesa bawain lagu sendiri. Maka mereka bawakan lah lagu Living with Pirates. Trus si produser ini nanya “lagu sendirinya mana?”, mereka bilang “ini lagu kita sendiri”. Si produser ngomong lagi “lagu Indonesianya mana?”, mereka jawab “wah, untuk album ini kita ga bikin lagu bahasa indonesia”, lalu si produser bilang, “Oh ya? kalo gitu jualan aja di New York!”.
Hmm…pertama-tama ya pak (saya asumsikan saja si produser ini lelaki), kenapa harus di New York? kalo Endah n Rhesa mau jualan di Los Angeles boleh ngga? Atau di Minnesotta gitu? atau mungkin di London? atau di Fiji mungkin? Aah…ini adalah salah satu komentar paling idiotik yang pernah gua denger dari seorang produser.
Apa hubungannya bahasa yang dipakai dengan harus jualan dimana? Kalo gua bikin lagu bahasa Kituba apakah berarti gua cuma boleh jualan di Congo? Kalo gitu, harusnya Pak Gesang ngga boleh jualan Bengawan Solo di luar dong? Tapi buktinya? Bengawan Solo populer bgt di Jepang. See, di musik, bahasa itu bukan penghalang. Ngga penting sama sekali bahasa yang mereka pake apa. Bahasa itu cuma salah satu bentuk art mereka, suatu media yang mereka rasa cocok untuk menyampaikan apa yang mau mereka sampaikan. Masalahnya, ada hal-hal yang memang lebih bagus disampaikan dalam bahasa tertentu. Andaikata Endah n Rhesa bisa bahasa Hindustani dan mereka ngerasa ada yg indah mereka sampaikan dengan bahasa tersebut, gua yakin mereka akan pake bahasa Hindustani.
Blum lagi masalah “pembajakan”. Yah, dari hasil ngobrol-ngobrol gua dengan seorang praktisi musik, ternyata pembajakan itu legal lho. Yap, kalo elo diproduseri oleh produser musik major, elo harus rela musik lo “dibajak”. Pembajakan ini yang sebenernya bikin para musisi dan produser itu kaya. Dalam beberapa hari aja udah bisa balik modal. Makanya terkadang elo akan denger sebuah interview di radio, dimana ada artis baru bikin album, trus dia dengan santainya bilang “..iya, bajakannya juga udah ada. kualitasnya bagus juga.” yah, itu karena dia menerima dengan sukarela hati musiknya dibajak. kok bisa sukarela hati? Kan hidupnya dijamin. Jadi yah peduli setan toh? Tapi beda dengan para musisi Indie ini. Musisi indie ini malah dengan sukarela meletakkan musik mereka di internet. Lho? dibajak sendiri dong? Ngga lah. Kalo menurut gua sih itu namanya preview. Dan ngga ada tuh namanya jadi CD bajakan trus keuntungannya buat para mafia musik.
Nah, hal-hal kayak gini sebenernya yang menghalangi para musisi independen kita untuk mencapai sukses yang lebih besar. Ngga ada support yang maksimal. Tapi sebenernya, kalo bicara tentang sukses, kita juga harus liat tujuan awal si musisi. Kalo dilihat dari idealismenya, gua rasa White Shoes sudah cukup sukses. Mereka bahkan sempet main di Amerika, di acara Amerika betulan, dan mereka dapat sambutan yang luar biasa. Bahkan dapet gelar best dress dari Vanity Fair (kalo ga salah). Band-band major indo? Yah..Dewa gitu pernah sih main di Amerika. TAPI…di depan orang-orang Indonesia. Jadi intinya sama aja kayak mereka main di Indonesia, bedanya ini di Amerika gitu. Jadi lebih besar mana achievementnya? Menurut gua sih lebih besar achievementnya White Shoes.
Tapi yah, jika kita melihat lagi hidup para musisi independen ini, kasian juga. Mereka punya musik yang bagus, dipuji di dalam dan luar negeri, tapi mereka blum bisa menyokong hidup mereka dari musik. Sebagian besar musisi ini punya kerjaan tetap. Kalo beruntung, kerjaan tetap mereka masih berhubungan dengan main musik (seperti halnya Endah n Rhesa yang tiap Rabu main jadi home band di Loca, Kemang). Tapi ada musisi2 lain yang harus menjalani 2 pekerjaan sekaligus. Padahal seharusnya mereka layak dapat penghargaan lebih untuk musik mereka. Sementara itu musisi major menikmati hidup mereka total dari musik. Band kayak Changcutters per personelnya bisa dapet 3 juta sekali manggung. Ngga gede-gede amat kan? Tapi mereka manggung 25 kali sebulan.
Jadi…apakah ini berarti musisi major itu salah? Ngga sih. Lagi-lagi, orang harus hidup gitu. Jadi yah, gimana pun caranya, asal ada jalan, mereka pasti akan jalanin. Tapi buat gw sih rasanya ngenes aja. Dimana sebenernya ada musisi-musisi yang bisa menjadi angin segar bagi blantika musik Indonesia, tapi lagi-lagi yang muncul ke permukaan hanyalah kopian dari band-band yang sudah ada dari dulu. Seperti kata Efek Rumah Kaca, “Lagu cinta melulu…kita memang benar-benar melayu…yu..yu…” [ sumber : jerryhadiprojo.wordpress.com ]
www.thejeo.blogspot.com



“Parade Lip Sync” di Acara Musik Live Televisi


Telinga dan mata sebagai penikmat musik, hampir setiap hari selalu dimanjakan dengan kehadiran acara-acara musik live di televisi (indonesia) yang menampilkan penyanyi/band. Dengan semakin banyaknya acara sejenis ini di tv, tentu semakin memberikan banyak “Job” untuk manggung. untuk artis/band baru, ini adalah peluang untuk lebih memperkenalkan diri mereka kepada masyarakat pecinta musik secara lebih luas. karena pengaruh dari tayangan televisi sangat besar untuk mendongkrak popularitas dan untuk penyanyi/band yang sudah lebih dulu eksis, akan semakin menunjukan eksistensi mereka.
Tetapi, dengan kehadiran acara-acara dengan berbagai judul musik, live di televisi itu tidak selamanya memberikan dampak positif. Selalu saja ada hal yang perlu dikorbankan demi sebuah tujuan yang bernama komersialisme.
Mungkin loe pun setuju jika kebanyakan dan hampir semua penyanyi/band yang tampil di setiap acara tersebut hanya sekedar Lip Sync. ya… lip sync. bernyanyi hanya sekedar pura-pura dengan hanya menirukan gerakan bernyanyi/main musik dari rekaman lagu mereka sendiri. Meskipun judulnya acara musik live, tapi musik yang mereka mainkan tak lebih dari acara karaoke-an.
Sebuah ironi dari gegap gempitanya industri musik indonesia yang saat ini begitu bergairah.
Ada apa dan mengapa mau melakukan itu? Apakah karena penyanyi/band sendiri yang merasa tidak perlu memberikan penampilan secara total (live) untuk acara sejenis itu, karena mereka biasanya hanya tampil membawakan 1-2 lagu saja, jadi tak perlu repot untuk persiapan tampil live? atau…. mungkin mereka tidak percaya diri karena skillnya yang biasa saja?….hehehe atau karena kewenangan dari yang punya acara (TV people) yang mengharuskan penyanyi/band untuk tampil secara lip sync, agar meminimalkan biaya produksi sebuah acara live yang memang butuh modal tak sedikit?
Mereka tak ubahnya seperti “Parade Lip Sync“. Namun imbasnya sangat besar. kekaguman pecinta musik terhadap idolanya yang melakukan lip sync menjadi terkikis.
Berani tampil live performance meskipun hanya format acoustic live (tidak full music). Sebenarnya menunjukan totalitas musik band itu sendiri dan tentunya layak mendapat apresiasi yang harus dihargai dan itulah hiburan sesungguhnya yang di inginkan oleh pecinta musik. Tidak dengan selalu tampil lip sync setiap acara-acara musik di televisi. Bahkan kadang terkesan lebih menonjolkan image lucu, dengan mengorbankan sisi musikalitas yang sebenarnya bagus.
Penampilan live bisa sempurna karena ada chemistry antara penyanyi/band dengan  penontonnya. ada vibe yang tidak bisa dirasakan jika hanya mendengar lagu dari  kaset (versi rekaman). [sumber : nanang-harmonicnoise.wordpress.com]
www.thejeo.blogspot.com

Neuronal Music

This page provides audio files where neuronal activity is "visualized" by creating music. The music is created from neuronal spikes recorded extracellularly in parietal cortex of awake and naturally-sleeping cats (taken from Destexhe et al., J Neurosci, 1999). 8 multiunit recordings were obtained with a system of 8 pairs of tungsten microelectrodes. Spikes were extracted using the BrainWave software. They were converted to MIDI, by associating each neuron to a given tone, and triggering the tone whennever this neuron fired. The MIDI files were then converted to MP3 using freeware programs. The music scores were generated by importing the MIDI files into the "Guitar Pro 5" program.
The "melody" produced by neuronal spikes gives an idea about the distributed firing activity of those neurons. MP3 files were generated for 4 cases: when the animal was awake (Wake-Neurons), during slow-wave sleep ("Sleeping-Neurons") or during REM sleep (REM-Neurons), where most dreams occur. The file "Poisson-Wake" is a randomly-generated stream of notes with the same statistics as for "Wake". Interestingly, the firing of one isolated neuron during wakefulness is undistinguishable from that of random (Poisson) activity (compare the audio file generated by one neuron during Wakefulness with that generated by a Poisson spike train with same statistics). However, the distributed activity (ie, the "melody") of several neurons is clearly different (listen to the difference between Wake Neurons with its Poisson equivalent, Poisson Wake - see below). This suggests that what makes our brains non-random is not in the firing pattern of individual cells, but it lies in the respective timing of the firing activity of different neurons...
The different audio files available are:
(in all audio files, the time base is four times slower than real time; all recordings are from the same experiment)
These files (and more files at different audio formats) are also available at the Internet Archive, under a page called Neuronal Tones.
Just for fun, see also the music scores for Wake Neurons, Poisson Wake, Sleeping Neurons, REM Neurons.
In the cases shown here, the simplest translation from spikes to music was used, namely each neuron produces its own note, at the moment it fires. It is possible to use more sophisticate ways of translating spikes to music, such as for example using more complex rules of harmonics and associate predefined phrases or chords with given patterns of neuronal activity. Work in this direction is currently under way.
http://cns.iaf.cnrs-gif.fr/alain_music.html
www.thejeo.blogspot.com

Mediasi Medis Lewat Musik


Saat emosi, atau menghadapi persoalan, manusia kerapkali mengambil reaksi yang salah pada persoalan yang terjadi, keadaan yang berlaku jadi tak terkendali diluar pikiran jernih.Dalam keadaan marah dengan pacar anda, anda keluar dari mall untuk mencari parkir motor, anda bingung dalam pencarian motor anda. Alhasil anda akan terlihat seperti orang bodoh yang terlihat seperti kehilangan motor anda sendiri. Saat-saat tersebut membuat kita kehilangan kendali atas diri dan mengkondisikan diri diluar akal sehat pemikiran kita.
Teori The Secret mengatakan, partikel-partikel di tubuh ini disusun oleh energy- energy yang bermacam-macam, yakni, energi positif dan negatif. Pengaplikasian elemen energy positif akan menghasilkan hasil yang positif, yang juga sebaliknya. Maka tidak jarang saat kita marah atau berada dalam persoalan, nafas kita tersendat-sendat. Hal ini merupakan contoh kecil dari efek energy negatif.
Dari pandangan diatas, alangkah baiknya, menghadapi persoalan yang ada dengan kepala dingin, yang kalau diperlukan, ambillah nafas panjang dan buang perlahan-lahan. Cara ini biasa digunakan sebagian banyak orang untuk mengatasi perasaan skeptis yang ada.
Cara ampuh yang bisa kita gunakan untuk meminimalisir pikiran negatif yakni dengan mendengarkan musik. Musik dapat mempengaruhi motorik psikologis, mental, dan emosi. Di zaman Turki kuno, yakni dinasti Ottoman, musik dipakai sebagai therapy yang ampuh yang bisa melahirkan mood dan mental yang baik disetiap kesempatan, Raja-raja Ottoman menggunakan musik sebagai theraphy bagi mereka, bahkan rumah sakit-rumah sakit di Turki kala itu menggunakan musik sebagai medium penyembuh.
Mainkan musikmu, apapun dibalik pikiranmu, mainkan Genre musik yang kau sukai, Lets Play dude!!!Dibalik semua itu ada hal yang lebih harus kita utamakan, yakni bersembah sujud untuk Sang Esa dimana kekuatanNYa paling besar untuk penciptaan dan prosesnya untuk penyembuhan diri. (Rian)
oleh : Roka
http://kesehatan.kompasiana.com/group/alternatif/2010/08/13/mediasi-medis-lewat-musik/
www.thejeo.blogspot.com

Anak Jalanan Medan Bermusik dengan Gergaji

G E R G A J I. Siapa yang tak tahu alat ini? Berdasarkan penelusuran di google.com, alat ini ditemukan pada tahun 1777 oleh Samuel Miller di Inggris [ngaco: kira-kira gergaji yang ditemukan Miller dipungut lalu dilaporkan ke polisi tidak ya? Hahaha...] Gergaji adalah tools dengan strip logam tipis dengan gigi di salah satu ujung atau logam tipis disk dengan gigi di pinggiran (sumber:kebebasanex.blogspot.com)

Dengan gergaji manusia menjadi gampang memotong kayu—ada juga jenis gergaji memotong besi. Hasilnya juga rapi—berbeda kalau dipotong dengan parang atau kapak. Dengan bantuan gergaji—dan tentu saja alat tukang lainnya—manusia telah membuat meja, kursi, lemari, bahkan bangunan.
Tapi gergaji rupanya bisa juga jadi inspirasi berkesenian. Dewi Persik misalnya malah terkenal setelah menemukan goyang gergaji—hahaha, entah bagian mananya goyangan model ini yang mirip dengan gergaji. Di Medan lain lagi ceritanya. Sekelompok orang menjadikan gergaji sebagai alat musik yang apik.
Tak percaya?
Adalah The Bamboes. Mereka adalah komunitas musik sampah—yang terdiri dari anak-anak jalanan kota Medan—yang menggunakan gergaji sebagai [salah satu] alat musik. Mereka menamakan istrumen ini: biola gergaji.
Dinamakan biola karena memang memainkannya digesek seperti biola dengan gesekan biola (bow). Bagaimana memainkannya? Pemain harus duduk, pegangan gergaji dijepit dengan dua paha, tangan kiri memegang ujung gergaji—melengkungkannya, sedangkan tangan kanan memegang bow sambil digesek-gesekan pada bagian tumpul (belakang) gergaji.
Tinggi rendah suara yang dikeluarkan tergantung lengkungan yang dibuat pemain. Suaranya: unik, kadang seperti hembusan angin. Kadang seperti suara burung hantu. Kadang seperti gerombolan lebah yang marah karena sarangnya di lempar tangan jahil. Nadanya mencabik-cabik… [akh, sebaiknya ada dengarkan sendiri memang, karena saya tak pala tahu soal musik, tak bisa mendeskripsikan apa yang saya dengar ...]
Tiap kali tampil, gergaji selalu saja menjadi instrumen yang banyak mendapat perhatian orang. Selain memang unik, suaranya juga membuat orang terpukau. Salah seorang anggota komunitas ini yang terampil memainkan biola gergaji adalah David Kribo, yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang asongan—terkadang mengamen. David merupakan salah seorang anak yang merantau dari kampung dan menjadi anak jalanan dan bergabung dengan komunitas ini lebih dari 10 tahun yang lalu.
Selain gergaji, komunitas ini juga menggunakan alat-alat tak lazim sebagai instrumen musik. Botol vodka berisi air yang dijadikan gending, aqua galon dijadikan jimbe atau perkusi, tutup lemonade yang dipakukan dijadikan kincringan (seperti yang sering dipakai anak jalanan untuk mengamen) dan lain-lain.
Komunitas ini berdiri pertama kali tahun 1995, oleh Sofian Adli—dan beberapa orang kawan lainnya. Gagasannya menjadikan musik sebagai alat (media) pendidikan—karena memang pendidikan formal (sekolah) tak mungkin lagi dijangkau oleh anak-anak jalanan. Dengan bermusik mereka belajar kebersamaan, persahabatan, kemanusiaan, dan juga memberontak pada kehidupan yang kadang memang tidak berpihak.
Dan riuh-rendah biola gergaji yang menyayat hati merupakan salah satu pemberontakan mereka. Sudikah kita mendengarkan? [*]
oleh : Jemie Simatupang
http://hiburan.kompasiana.com/group/musik/2010/06/19/anak-jalanan-medan-bermusik-dengan-gergaji/
www.thejeo.blogspot.com
 

Anak Jalanan, Musik, dan Pemberontakan

“Di jalanan, kami gantungkan cita-cita
Sebab di rumah, tak ada lagi yang bisa dipercaya”
B o n g k a r – Swami
ADA KOTA ada anak jalanan. Berbagai analisis kaum terpelajar bilang anak jalanan—layaknya fenomena sosial lainnya—timbul karena kemiskinan; entah itu yang kultural ataupun yang struktural (saya sendiri cenderung kepada yang kedua—kemiskinan yang timbul karena struktur, kebijakan tak berpihak kepada rakyat, kegagalan negara mensejahterakan warganya).
Begitu juga di Medan. Jumlah anak jalanan melampui angka ratusan (belum ada data pasti). Mereka bekerja; mengamen, mengemis, berjualan; bermain, di jalanan. Bahkan sebagian besar tidur dijalanan—total di jalan.
Anak-anak ini datang dari daerah-daerah kumuh (slum area) yang ada di kota ini. Sebagian yang lain datang dari desa-desa yang ada di Sumatera Utara—kota dimanapun memang selalu menjadi magnit bagi desa (bisa ditebak karena timpangnya pembangunan kota-desa).
Ketika melihat mereka mengulur tangan—meminta recehan—ke arah mobil mewah di persimpangan jalan, kita bagai melihat potret kegagalan pembangunan di negeri ini, yang selalu kita dengar dengan dongeng: memajukan kesejahteraan umum; kesejahteraan rakyat!
Tapi tampaknya yang sejahtera adalah pribadi-pribadi, konglemerat-konglomerat, birokrat-birokrat, dan siapa lagi itu? Rakyat (baca: juga anak jalanan) terus melarat.
Sadar fenomena ini, pada tahun 1995 sekelompok anak jalananan di Kota Medan membentuk sebuah komunitas. Namanya The Bamboes (terjemahan bebas: pohon bambu—sengaja dipilih karena melihat filosofi pohon ini yang bisa hidup di mana saja, hidup berkelompok, dan banyak manfaatnya).
Sebagai sarana pendidikan (baca: penyadaran) The Bamboes menggunakan seni, lebih khusus lagi: musik. Beda dengan musik konvensional, komunitas ini menggunakan alat-alat musik yang mudah mereka temukan di jalanan; di tong sampah, di got, di pinggir jalan.
Hampir semua alat yang mereka gunakan berasal dari sampah; botol aqua, botol krantindaeng, tutup botol, botol vodka (jadi gending), dan macam-macam lainnya. Kelompok ini juga menggunakan gergaji yang digesek layaknya biola.
Alat musik konvensional yang masih bisa dikenali—kalau mendengar musik ini—paling gitar dan harmonika.
Dengan alat-alat ini mereka menciptakan lagu; membuat lirik, memilih nada, kemudian mengarasemen musik. Lagu-lagu yang mereka ciptakan juga tak jauh dari realitas yang mereka hadapi, tentang jalanan, tentang perkawanan, tentang ketidakadilan, dll.
Tengok misalnya lagu Mendidik Untuk Berjuang. Begini liriknya:
Pelan-pelan kakiku melangkah
Melewati gelap dan berlubang
Disiram hujan dan dihantam badai
Kulewati dengan semangat
Kan kujaga api semangat
Lewat lagu dan nyanyian hati
Tuk bebaskan pikiran yang terpenjara
Agar hidup jadi tak sia-sia
Kerasnya hidup, membuatku kuat
Pahitnya jalanan, mendidikku untuk berjuang
Berjuang ….
Banyak pesan yang ingin disampaikan dalam lagu ini. Bahwa mereka bisa bertahan hidup di jalanan—layaknya orang dewasa—karena jalanan telah mendidik mereka untuk bertahan. Anak-anak usia mereka (normalnya) masih lagi suka bermain dengan pentil tetek ibunya. Tapi dijalanan mereka bisa bertahan tanpa bantuan dari orang dewasa. Jalanan ada sekolah bagi mereka.
Dengan seni mereka berjuang hidup, dengan musik mereka memberontak. Seni, sebagaimana Albert Camus, benar-benar telah dijadikan sebagai alat pemberontakan. Seni adalah pemberontakan. Memberontak terhadap realita, terhadap kebijakan yang disikriminatif, terhadap tatapan curiga kita. –juga terhadap kemapanan musik (seni) itu sendiri.
Mereka adalah korban (keangkuhan pemerintah: luas lagi, orang dewasa), fenomana, sekaligus seniman—pemberontak. Mengulang lagi lirik swami yang dikutip di awal:  Ketika di rumah (di kantor-kantor, di sekolah, bahkan rumah ibadah) tak ada lagi yang bisa dipercaya, mereka memberontak, dan jangan salahkan mereka—kalau dijalanan mereka gantungkan cita-cita!
Hidup memang tak langsung berubah! Mereka tetaplah anak jalanan—tapi paling tidak, sebagian dari mereka mulai tahu, sadar, gerangan apa sebenarnya telah berlaku di negeri ini; pada diri mereka.[*]
Untuk: Vide, Mastur, Bayu, dan anak-anak komunitas The Bamboes lainnya; terus b e r j u a n g . . .
Bagi yang berkenan silahkan mendowload lagu “Mendidik Untuk Berjuang” di link bawah ini:
Download Mp3 the baMBoes - mendidik utk berjuang

oleh : Jemie Simatupang
http://edukasi.kompasiana.com/2010/07/02/anak-jalanan-musik-dan-pemberontakan/
www.thejeo.blogspot.com
 

Gamelan Menembus Abad Millennium

Oleh : Michael Gunadi Widjaja

Seperangkat perkusi yang terbuat dari metal.Membentuk sebuah orkestrasi bunyi yang lengkap,kompleks dan khas.Itulah Gamelan.Orkestra perkusi metal sebetulnya dikenal juga di Cina,Vietnam,Kamboja dan juga Thailand.Daerah di Indonesia pun tak cuma satu yang mengenal orkes perkusi metal.Jawa barat,Jawa tengah dan Bali.namun istilah gamelan khusus diperuntukkan bagi orkes perkusi metal di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Sejak abad 8 dan 9 gamelan telah ada dan dikenal.Seiring berjalannya waktu,gamelan seolah terpinggirkan oleh ekspansi musik barat.Gamelan menjadi orkestra bunyi yang asing bahkan di daerah asalnya.Generasi anak jaman lebih terpukau dengan musik barat yang kental oleh nuansa gemerlap industri musik.dan gamelan pun tercitrakan hanya sebagai bentuk seni yang kuno,antik,asing,aneh dan ketinggalan jaman.Tentu saja fenomena ini sangat menyedihkan,memilukan dan memprihatinkan.Sebagai salah satu national heritage,gamelan mestinya dapat lebih banyak berbicara di kalangan generasi anak bangsa.
Ada ironi yang terjadi pada gamelan.Di daerah dan tanah airnya,gamelan kurang mendapat tempat.Sementara di negara lain gamelan justru dianggap sebagai bentuk seni auditif yang sangat bermutu.Di Tokyo,gamelan menjadi cabang seni ketrampilan bagi siswa sekolah dasar.Di jurusan etno musikologi di Amerika Serikat gamelan merupakan mata kuliah mayor.Dari sanalah lahir musikolog seperti Lou harrison dan Jody Diamond,yang mengusung gamelan pada citra mendunia.Demikian juga di Selandia baru,di Wellington,ada Jack Body dengan gamelan Padhang Moncar.jack Body juga membuat gamelan mendunia dengan gubahan gendhing-gending baru.
Lou harrison.Peralatan gamelan dibuat di Amerika
Lou harrison.Peralatan gamelan dibuat di Amerika
Upaya melestarikan gamelan dan mencitrakannya hingga mendunia,dilakukan juga di tanah air,Almarhum Sapto rahardjo adalah pionir dalam upaya ini.Dimulai gagasannya dengan Yogyakarta International Gamelan Festival,konsep musiknya tentang gamelan meets synthesizer sampai kolaborasinya dengan pemusik Perancis Andre Jaumee dalam CD Suita Borobudur.
Alm.Sapto Rahardjo
Alm.Sapto Rahardjo
Upaya para pionir gamelan dan musikolog untuk mengusung gamelan untuk mendunia,bukanlah tanpa alasan.Gamelan tradisional memiliki konsep musik yang luar biasa kompleks.Tidak seperti musik barat,gamelan bukan musik Tonal melainkan musik modal Laras apapun dalam gamelan bisa menjadi awalan titi laras baru.Konsep modal jauh lebih dahulu dimiliki gamelan dibanding tangga nada Gregorian musik barat.Belum lagi sifat gamelan yang sensual,exotic dan jernih.
Gamelan sebagai mied music oleh KMSWT Tegal
Gamelan sebagai mied music oleh KMSWT Tegal
Dengan kekayaan jati dirinya,gamelan siap untuk menembus abad Millennium.Persoalannya adalah,gamelan harus ” bersaing ” dengan gemerlapnya industri musik dengan produk musik budaya barat yang sangat menggiurkan.Upaya yang dapat dilakukan adalah revitalisasi.menjadikan gamelan sebagai musik baru,new musik.hal ini dilakukan dengan :
  • Membuat gubahan yang menonjolkan fungsi tiap piranti gamelan.Jadi tidak harus gamelan tampil dengan performa penuh.Ada komposisi untuk dua gender saja.gender dan saron saja.Ataupun format ensemble yang ringkas.Ini sesuai dengan tuntutan jaman yang menghendaki portabilitas tinggi
  • melakukan mixed cultural.Misalnya gamelan berfusi dengan jazz atau jenis musik lainnya
  • Mengemas tampilan seni gamelan dengan performa panggung yang lebih menarik
Upaya tersebut masih terus gencar dilakukan.Agar gamelan benar-benar siap menembus abad Millennium.yang dapat dimaknai sebagai siap pula menghantar generasi anak bangsa menuju modernisasi tanpa kehilangan akar budayanya.
Berikut ini dapat kita saksikan bentuk revitalisasi gamelan.Ditampilkan oleh GAMELAN X (baca : gamelan crosover) dari USA.
http://hiburan.kompasiana.com/group/musik/2010/08/28/gamelan-menembus-abad-millennium/
www.thejeo.blogspot.com

Mengenal Hak Cipta Musik

Oleh : Michael Gunadi Widjaja

Di Indonesia, ada sebuah organisasi yang menamakan dirinya KCI (Karya Cipta Indonesia).KCI adalah sebuah organisasi nirlaba.Berpusat di Golden Plaza Fatmawati Jakarta ( www.kci.or.id).Organisasi ini bergerak dalam bidang hak cipta musik.Hak cipta musik merupakan salah satu hak intelektual.Dan agaknya tidak berlebihan jika kita meluangkan waktu sejenak untuk sekedar berkenalan dengan hak cipta musik
Hak cipta musik dapat dikatakan adalah hak khusus yang diberikan kepada pengarang lagu dan/atau musik dan penerusnya (ahli warisnya) untuk mengumumkan lagu dan/atau musik dan memperbanyak lagu dan/atau musik karangannya.Adapun yang dimaksudkan mengumumkan lagu adalah sebuah hak khusus dalam hubungannya dengan tampilan musik.Baik untuk musik hidup maupun siaran televisi atau radio.Hal ini dalam hukum tentang hak cipta dikenal sebagai Performing Right.Sedangkan memperbanyak lagu dan/ atau musik berkaitan dengan duplikasi atau penggandaan materi musiknya.
Hak cipta musik adalah sebuah hak intelektual.Hak intelektual yang berkaitan dengan property.Dalam konteks ini,property yang dimaksud adalah lagu dan/atau musik.Ada perbedaan mendasar pada paradigma hal intelektual dalam property dengan hukum property umum.Perbedaannya dapat diilustrasikan :
Misal kita membeli CD yang berisi nyanyian.Kita memiliki hak atas CD nya tetapi BUKAN ATAS NYANYIANNYA. Jadi kita berhak memutar atau menggunakan CD yang telah kita beli hanya,dan hanya untuk kepentingan pribadi yang sifatnya non komersial.
Melihat pengertian-pengertian tentang hak cipta musik,kita tentu segera sadar bahwa masih sangat banyak persoalan yang membentang di hadapan kita berkaitan dengan hak cipta musik.Terutama yang berkaitan dengan materi musik dalam internet.Contoh kasusnya semacam ini:
  • Seseorang membeli CD berisi 10 lagu
  • Salah satu lagunya dia upload ke blog pribadi dia.Sampai dengan tahap ini tak ada masalah.Karena dia menggunakan lagu dari CD yang dia beli untuk kepentingan pribadi.
  • Temannya mengunjungi blog si orang tadi.tertarik dengan lagu yang di upload.si teman tersebut kemudian mendownload nya.Ini pun belum masalah.Karena masih dalam ranah keperluan pribadi.
  • Masalah timbul ketika terjadi efek berantai.Si teman punya teman.Temannya teman tersebut punya teman lagi.dan seterusnya.Mereka juga melakukan download lagu yang sama.Ini adalah duplikasi yang dipublikasi.Sekalipun tak ada unsur komersialisasi,namun tentu pengaruhnya sangat besar bagi profit finansial si pengarang lagu.karena orang tak lagi perlu beli CD nya.Cukup download gratisan.
Paparan tersebut baru salah satu contoh yang riil terjadi.Masih banyak jenis kasus dan polanya pun beragam.Namun demikian,yang membuat kita sedikit lega adalah kenyataan.Bahwa musik diakui sebagai hak intelektual di tanah air kita.Dan mulai timbul kepedulian terhadap perlindungan hak tersebut.

http://hiburan.kompasiana.com/group/musik/2010/09/07/mengenal-hak-cipta-musik/
www.thejeo.blogspot.com

Pembajakan Semu Terhadap Karya Musik

oleh : Michael Gunadi Widjaja

” Setiap kali anda memutar lagu karya Gesang,bisa jadi anda sudah mencuri periuk nasinya “

Kalimat tersebut terpampang pada booklet resmi dari KARYA CIPTA INDONESIA sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang hak cipta musik di Indonesia.Hak cipta karya musik,dalam highlight KCI dihubungkan dengan periuk nasi seseorang. Almarhum pak Gesang.Dan bicara tentang periuk nasi seseorang,agaknya memang kita harus mau untuk sedikit mengernyitkan kening.Dan memang hak cipta musik di Indonesia masih menyisakan permasalahan yang tidak ringan.
Hak cipta terhadap karya musik dalam artikel ini saya batasi menjadi dua hal : Printed Material dan Audio Material.Yang tergolong printed material adalah karya yang dicetak,baik buku maupun partitura lagu dan atau musik.Sedangkan audio material yang saya maksud adalah karya musik yang diperdengarkan.Tentu dalam bentuk rekaman.Dan pembajakan yang kali ini saya bicarakan bukan pembajakan seperti pembajakan VCD yang marak.Pembajakan dalam tulisan ini adalah pembajakan semu atau saya beri istilah PSEUDO PIRACY.Dan pseudo piracy ini terjadi dalam lingkup pemanfaatan komputer.
Illustrasi 1
Saya meminjam CD musik dari seorang teman.Sebuah CD paten.Artinya bukan bajakan,resmi,dan ada stiker etiket PPN nya.Karena saya suka dengan musiknya,saya bermaksud mengcopy CD tersebut untuk keperluan pribadi.Hanya pribadi dan untuk saya nikmati sendiri.Saat akan mengcopy,usaha saya gagal.Karena CD tersebut copyrighted protection.jadi tidak bisa dan tidak boleh dicopy.Saya tak berputus asa.Saya install softwre CD ripper.Dan dengan CD ripper tersebut tiap track dari CD, saya ripped (jagal paksa).Berhasil.Apakah ini sebuah pembajakan??? Kan saya melakukannya tidak untuk diperdagangkan.Hanya untuk pribadi.Jawabnya…ehm…Inilah pseudo piracy.Sama halnya dengan fotocopy.terhadap textbook dan fotocopy terhadap buku pelajaran musik dan buku lagu-lagu.
Illustrasi II
Saat seorang artis merilis album baru untuk dipasarkan,kurang dari 24 jam kita sudah bisa mengunduh album baru tersebut SECARA GRATIS!!!! Melalui internet.Banyak situs yang menyediakan konten unduh secara gratis untuk album lagu baru.Apakah ini sebuah pembajakan?? Toh pemilik situsnya tidak mendapat keuntungan apapun.Sama sekali tidak ada komersialisasi.Pengunduhan dilakukan secara gratis.Jelas tidak ada profit yang masuk ke dalam pemilik situs.Benefit??Tidak juga.Nama dan ketenaran pemilik situs??? Tidak juga Karena kita tak pernah tahu situs penyedia gratisan itu milik siapa.Dan servernya bisa saja berada di Canada,Aussie dengan alamat yang sulit dilacak.Sekali lagi…Inilah pseudo piracy.Dan ini juga berlaku bagi naskah-naskah musik.
Di sisi lain,pseudo piracy semacam ini sangat bermanfaat bagi pemusik-pemusik di daerah semacam saya ini.Di kota kecil seperti tempat tinggal saya,amat sangat sulit membeli buku musik.Bukan soal harganya,namun material nya yang tak tersedia.Contoh,buku JAZZ HANON.Silahkan cari bahkan sampai ke Medan,Jakarta,Jogja,Surabaya.Akan amat sangat sulit untuk mendapatkannya.Dengan internet..wow dan yahud.Saya tinggal mengunduh,dan gratis lagi.Inilah sisi lain dari pseudo piracy.Pernah ada yang mengatakan pada saya agar membeli buku musik via online.Membeli,bukan unduh gratisan.Saya coba di Amazon.com,hasilnya,amat mahal dan shipping nya sampai ke kota saya tidak kurang dari 20 hari !!Sementara siswa saya dalam 20 hari tersebut perkembangannya amat cepat.Dan seringkali buku atau naskah musik yang kita butuhkan tak tersedia pada situs belanja online yang resmi.
Sekelumit paparan tadi sepertinya ingin berujar bagi kita.Pseuda piracy atau pembajakan semu,memang benar-benar semu.Artinya batas antara pelanggaran dan manfaat benar-benar semu.Memang ada hak cipta karya musik yang dilanggar.Namun tidak ada komersialisasi untuk keuntungan ekonomi bagi tiap pribadi.Sementara manfaat dan mudharat nya amat besar.
http://hiburan.kompasiana.com/group/musik/2010/09/14/pembajakan-semu-terhadap-karya-musik/
www.thejeo.blogspot.com

PSP Bikin Merak Bernuansa 80-an

Ada yang beda pada Selasa (7/9/2010) petang hingga malam  di Pelabuhan Penyeberangan Merak, Kota Cilegon, Banten, ketika lagu-lagu dari Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks (OM PSP) membahana. Lagu-lagu yang dibawakan langsung oleh para personelnya di sebuah panggung yang didirikan di dekat pintu masuk bangunan pelabuhan Merak pun menghadirkan nuansa era 1980-an.


Begitu lagu pertama, Fatimah (dilafalkan sebagai Fatimeh), disuguhkan, sontak puluhan orang yang ada di sekitar panggung itu turut berjoget riang. Suasana gembira tersebut tak pelak menarik perhatian para penumpang bus atau kendaraan pribadi yang baru saja tiba di pelabuhan.
Lokasi panggung memang strategis. Apalagi, dalam jarak waktu sekian menit, panggung sering menjadi tempat berhenti bus transit yang mengantarkan para penumpang dari Terminal Terpadu Merak (TTM) menuju bangunan pelabuhan Merak.
Deretan penumpang yang memilih berjalan kaki melalui selasar gang dari TTM ke loket pun pasti melewati sudut tempat pendirian panggung itu. Jadilah panggung tersebut ibarat magnet yang menarik mata dan telinga para pemudik.
Di panggung, para personel PSP asyik memainkan instrumen musik mereka. Ade memukul gendang, Omen memetik ukulele, dan Monos menjentikkan jarinya di senar gitar. Di dekat mereka Rizali memainkan mandolin, sedangkan Dindin sibuk dengan alat musik "kecimpring". Adapun Andra dengan piawainya mencipta kemeriahan nada dengan perkusi maracasnya.
Selain hadir dengan formasi enam personel asli, PSP, yang pernah populer pada era 1980-an, mengajak pula tiga pemain muda, yakni Fatul, Awe, dan Kudil, yang masing-masing bertanggung jawab secara estetis terhadap alat musik bas, suling, dan mandolin. Lengkaplah sembilan orang dengan instrumen musik itu menggairahkan suasana Pelabuhan Merak.
Ditemui ketika jeda karena ada penampilan dari Teater Wong Kite, Ade mengatakan bahwa Selasa (8/9/2010) malam mereka memenuhi ajakan dari teman kuliah mereka, yakni Fredi Tulung, yang kini menjabat Kepala Badan Informasi Publik Kominfo, untuk membantu memberi informasi berguna bagi para pemudik. Demikianlah, di sela sajian musik PSP, ada pula acara sosialisasi. Pertamina berbicara soal tabung gas dan polisi memberi tips mudik yang aman. Sesekali, Andra turut berpartisipasi dengan ikut bertanya.
***
Beragam genre musik dimainkan oleh PSP. "Ada pop, Melayu, dangdut, pokoknya apa yang kami suka dan masyarakat suka dengerin akan kami mainkan," kata Ade.
Sejumput kisah dibaginya pula berkait dengan kelahiran PSP pada 1978. Menurut Ade, tidak ada hal yang filosofis yang mendasari pemilihan nama Pancaran Sinar Petromaks bagi grup mereka. Semua mengalir begitu saja. "Begini ceritanya. Dulu, pada tahun 1978, ada satu masa perjuangan mahasiswa, namanya gerakan moral. Dari situ kami sering demo, ada aksi mogok kuliah. Saat itu kami jaga (di) kampus, ngamen, berkumpul dengan teman-teman memainkan lagu-lagu Beatles, jazz, folk song, dan termasuk dangdut," kenangnya.
Melanjutkan kisahnya, Ade bertutur, pada saat itu dangdut seolah dimusuhi oleh kalangan elit. Penyuka lagu dangdut kerap dianggap kampungan. Padahal, nyatanya, dangdut hidup di khalayak luas negeri ini. Para personel PSP sendiri tak ragu memainkan dangdut, karena kenyataannya menghibur banyak orang.
Pada zaman mogok kuliah itu, digelar festival band di Kampus Kedokteran UI, di Salemba, Jakarta. "Kami ikut main pakai lagu dangdut itu. Menanglah kami, juara pertama. Ditanya, kelompok kami ini namanya apa. Karena di ujung panggung itu digantung petromaks, maka kami berceletuk saja kalau nama grup kami itu Pancaran Sinar Petromaks. Jadilah nama itu," kenangnya lagi.
Kata "Pancaran" dalam nama grup tersebut, terang Ade, terpengaruh oleh kebiasaan tak sedikit pihak memberi nama grup dengan memakai kata itu. Pancaran Kasih, misalnya. Sementara itu, Orkes Moral sebagai kepanjangan dari OM menggambarkan bahwa grup itu berdiri pada masa perjuangan moral mahasiswa, pada 1978.
Ada lagu-lagu ciptaan sendiri, ada pula lagu-lagu orang yang mereka mainkan. "Yang penting bisa diterima masyarakat untuk menghibur mereka. Enak didengar di telinga dan membikin rileks," lanjutnya.
***
Penampilan PSP di Pelabuhan Merak tersebut merupakan penampilan pertama mereka menghibur para pemudik. Mereka juga menyuguhkan lagu-lagu lainnya, seperti My Bonnie, Milikku, Siksa Kubur, Manusia, dan Ogah Ah. "Kami senang karena pengin menghibur saudara-saudara yang pulang mudik sekaligus membantu memberikan informasi yang benar dan berguna bagi masyarakat," kata Ade.
Bersama iringan lagu-lagu mereka itulah sebagian pemudik yang mendengarnya membawa kenangan 80-an ke kampung halaman untuk berlebaran.
entertainment.kompas.com
www.thejeo.blogspot.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews