English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google
Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Free Download TRANSFORMERS 3: DARK OF THE MOON

TRANSFORMERS 3

Free Download TRANSFORMERS 3: DARK OF THE MOON Files: part1 - part2 - part3 [550MB-mkv]|fs
[subtitle menyusul]

Trailer :
Bumblebee Autobots, Ratchet, Ironhide dan Sideswipe dipimpin oleh Optimus Prime, yang kembali beraksi melawan Decepticons jahat, yang bertekad untuk membalas kekalahan mereka di film Revenge of fallen Transformers 2009. Pemerintah Amerika selama ini ternyata tak sepenuhnya jujur mengungkapkan apa yang mereka ketahui. Selama bertahun-tahun mereka mencoba mencari tahu tentang keberadaan makhluk hidup lain selain manusia yang menghuni bumi namun mereka tak pernah mengatakan kalau sebenarnya mereka telah memiliki sejumlah bukti.

Sayangnya tak semua dokumentasi tentang pendaratan manusia pertama di bulan ini terungkap. Ternyata, saat mendarat di bulan, para astronot ini menemukan bangkai pesawat luar angkasa lain yang terpaksa mendarat darurat di sana. Masalahnya, bangkai pesawat ini bukan dari bumi. Apakah pesawat ini berasal dari Cybertron? Benarkah mereka sudah mencapai bumi saat itu?
Free Download TRANSFORMERS 3: DARK OF THE MOON

from: icenema31-2.blogspot.com

'Purple Love': Romantic Comedy by UNGU Band




For those not fond of the band Ungu, you should just skip this movie. Why? Since there is no reason to spend money and watch it, unless you are being really upset and need comfort cliche.

Indeed, the presence of a band of sorts Purple board has millions of fans who would provide a significant commercial consideration for the makers of this film. By placing fifth Purple group personnel as the main actor is expected to millions of fans flocked to the cinema and the producer of capital return.

Fortunately, the presence of Violet in the film does not stop at the level of "cult of self" by making them as superstars. Although still using their original name (Pasha, Makki, Onci, Rowman and Enda), the Purple persone placed as human beings with all the benefits and drawbacks. Once, Pasha plans to apply for his girlfriend, Lisa. Not unexpectedly, Lisa suddenly decided the relationship because of choosing another man.

Pasha's broken heart. His friends began to worry about the condition of Pasha, and decided to take action. Makki also contact an agency that offers services to help restore motivation and depression, owned by Talita (Nirina Zubir). Immediately, Talita also step in and try to help Pasha.

Talita entertaining Pasha, clean the house, delivered a walk in the park, to set her up with a client but strangely beautiful daughter named Shelly. Because of an incident, Shelly just fell in love with Onci. They also undergo the relationship secretly, so that is not known Pasha and other friends. Talita any confusion when Shelly states do not want an arranged marriage with Pasha.

Pasha, on the contrary, no matter with Shelly and just fell in love with Talitha. Talita started to panic and said quit the job. Pasha misunderstand and think that Talitha had only pretended nice to her for money. Talita offended by allegations of Pasha, and went away. Of course, friends and urge Pasha Pasha annoyed to say sorry.

When the five men are going to see Purple Talita, they met with Dio, a child with another client Talita cancer. Apparently Talita has dedicated his life to helping children because he himself was a cancer experience severe pain. Pasha felt Talita only that he loved. Pasha also apply Talita but his ex-girlfriend, Lisa, come back. And so the film will be brought to the final seconds romcom genre (romantic comedy) with laws that seem to have universal: They live boringly ever after.

The film is decorated with Purple songs, especially in scenes that are considered dramatic. Dramaturgy of the movie itself is predictable, and therefore easy to estimate the flow of this film, the forces that want highlighted is located in the dialogues and scenes, and romantic comedy. For comedy, the film is actually capable of causing laughter. This is particularly helped by "sincerity" and the innocence of the personnel acting Purple (the most prominent and Rowman Onci).

However, the romantic scenes with the dialogues are quite excessive when uploaded on Twitter, it is enough to make us feel odd. Not to mention the little details are quite strange (eg, actual job Talita what the heck it really has a lot of time to take care of one man alone?) And all the things that happened and cliches (terminally ill, orphans). Therefore, this film may be suitable for the souls of miserable zonder consolation, but not for those who consider themselves quite rational.
Get paid To Promote at any Location

Hollywood's Top 10 Films 2011










Hollywood's Top 10 Films 2011

Will : Road To Istanbul Liverpool Movie

Will : Road To Istanbul Liverpool Movie, 2005 Champions League Anfield fans can remember ‘that’ night in Istanbul again in a powerful new drama.

Will : Road To Istanbul Liverpool Movie


A new film based around Liverpool’s famous 2005 Champions League success is set to be released.
Will, records an orphan’s journey across Europe to get to Istanbul to watch the final.
Liverpool famously came back from 3-0 down at half-time against Serie A giants AC Milan to level the game, then win on penalties.
Will, which stars Bob Hoskins, is not the first film to be set around this occasion.
Fifteen Minutes That Shook The World was released in 2009 and is a fictional and fantastical account of half-time in the Liverpool changing room.
The film includes cameos from Steven Gerrard and Jamie Carragher while portraying Sir Alex Ferguson as a whisky-sozzled drunk and Manchester United stalwart Gary Neville as a squeaky-voiced rat living in the sewers.
View the trailer for Will below, spotted on 101 great goals.
Will : Road To Istanbul Liverpool Movie

Click Here For Trailer

Related Search :

liverpool Movie will, trailer film will, review will film 2011, will road to istanbul 2011, liverpool road to istanbul, movie will road to istanbul, new movie liverpool, road to istanbul, champion 2005 movie, film final liga champion 2005, film liverpool will, film road to istanbul

Source

Review Film Will : Road To Istanbul

will road to istanbul

Review Film Will : Road To Istanbul

Laga Final Piala Champion paling dramatis bisa di katakan adalah saat laga Liverpool FC Versus Ac Milan Pada Tahun 2005, sehingga Fenomena tersebut kini di filmkan ke layar lebar, Film Will : Road To Istanbul mengisahkan tentang seorang anak kecil yang sangat mengidolakan klub sepakbola Liverpool (Inggris), karena begitu mengagumi klub Liverpool, Sang Ayah dari anak tersebut rela membelikan tiket final Liga Champion 2005 Liverpool FC Versus Ac Milan, Hingga Akhirnya Si anak tersebut bisa bertemu dengan sang idola salah satunya yaitu Steven Gerrard, Film ini akan di rilis pada musim panas, Bagi Liverpudlian siap siap nonton filmnya ya... saya juga ga sabar pengen cepet cepet nonton Film Will : Road To Istanbul ini... :)

Berikut adalah Video Trailer dari Film Will : Road To Istanbul



Home Page Of : Liverpool FC
Film Will : Road To Istanbul
Liverpool’s Number 1 Fan’s Road to Istanbul

wikipedia for : Liverpool


Related Search :
review film will road to istanbul, will road to istanbul, trailer will, movie road to istanbul, download film road to istanbul, will : road to istanbul, film baru will road to istanbull, film 2011 road to istanbul

12 Film Hollywood Yang Menghina Indonesia

Mungkin Terlalu kasar kalo pake kata 'menghina', mungkin lebih tepatnya film barat yang di salah satu ceritanya berbicara soal 'keburukan-keburukan' yang ada di indonesia .... sebagian fakta, sebagian dilebih-lebihkan, namanya juga pilem, mungkin karena si pembuat pilem bukan orang Indonesia jadi gak faham dengan keadaan di indonesia, atau .... mungkin juga karena mereka benar-benar memahami indonesia ...

1. HOUSE (Serial TV)
Film seri di Starworld. Si dokter House lagi ngobatin anak yang sakit parah banget dibilang sama si dokter, kira-kira begini, “anak sakit parah begini tinggalnya pasti di Indonesia”.

2. LOOKING FOR JACKIE CHAN
Film yang menceritakan anak indonesia keturunan china fans berat jackie chan hingga akhirnya ketemu sang idola. Anak ini memiliki sikap khas indonesia, "MELANGGAR ATURAN", diantaranya saat menerobos satpam & lari dari rumah (pergi ke rumah neneknya di beijing tapi malah ga sampe tempat).

3. IN THE GODS HAND
Film tentang selancar dari Hawai ke Bali. Waktu itu ada peselancar2 muda dari Amerika yang nyoba semua ombak yg ada di dunia. Saat itu di Lombok/Bali, ceritanya mereka ketangkep polisi Indonesia, trus polisinya disuap dengan cara “salaman dengan nempelin duit ke tangan polisi”. Lolos deh mereka.

4. LETHAL WEAPON 4
Dalam salah satu adegannya, Danny Glover memaki-maki dengan mimik khasnya, “Kapal bodoh ini dibuat oleh seorang yang berasal dari Indonesia”. Wah, ngeselin banget ya. Ceritanya imigran china yang diselundupkan pake kapal yang diatasnamakan sebuah perusahan di Indonesia, (tapi fiktif). Coba deh perhatikan waktu Mel Gibson and the geng lagi ngobrol di markas sebelum menyerbu Uncle Benny. 'Jadi, Indonesia digambarkan sebagai negara yang selalu bikin kacau”.

5. THE YEAR OF LIVING DANGEROUSLY (1982)
Film ini berkisah tentang seorang wartawan yang dikirim untuk bertugas di Jakarta pada tahun 1965-1966. Saat itu, Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Soekarno sedang mengalami krisis politik dan ekonomi.Tak heran, situasi Jakarta digambarkan sangat kacau, lengkap dengan embel-embel penduduk yang merana karena kelaparan. Dimeriahkan oleh akting dari Mel Gibson dan Sigourney Weaver. Syutingnya sendiri dilaksanakan di Bangkok, karena tidak diijinkan pemerintah di Jakarta. (tanya kenapa?). Hehehe. Akibatnya meski ada beberapa dialog menggunakan Bahasa Indonesia, namun karena aktornya adalah orang bangkok, maka ucapannya terdengar aneh di telinga. Adegan yang paling terkenal sewaktu temennya Mel Gibson, Billy Kwan (ni artis cewek cuman di film ini main jadi cowok) ngegantungin spanduk di Hotel Indonesia (ceritanya) dengan tulisan SOEKARNO FEED YOUR PEOPLE. Saat Oscar 1982, film ini menang untuk artis terbaik Linda Hunt.Fim ini gak cuman nyebutin indonesia tapi tentang Indonesia. Jadi, dalam film ini, Indonesia digambarkan sebagai negara penuh konflik.

6.WEST WING(Serial TV)
Sebuah serial tv yang bersetting gedung putih, dengan tokoh presiden Amerika fiktif President Bartlett (Martin Sheen) beserta stafnya. Salah satu episodenya menceritakan tentang kesibukan gedung putih dalam menerima kunjungan presiden Indonesia (tentu fiktif juga) namanya Siguto (mungkin maksudnya Sugito, hahaha). Dari awal film ini Indonesia terus dijelek-jelekkan, sehingga sempat bikin kesel waktu nonton (hehehe), masa ada kalimat begini yang diucapkan seorang staf gedung putih kepada seorang staf gedung putih lainnya: “Hati-hati jangan bikin orang indonesia tersinggung, atau kepalamu akan dipenggal dan diarak keliling kota”. Staff yg memperingatkan itu bilang dia lihat di internet, trus staff yang satu lagi enggak percaya.

Jadi untungnya yang nonton West Wing juga emang gak diarahkan untuk percaya kalo Indonesia seprimitif itu. Belum lagi informasi yang salah tentang Indonesia. Digambarkan juga bahwa orang Indonesia adalah bangsa yang bodoh dan tak bisa berbahasa Inggris. Trus, ceritanya presiden Indonesia datang (dan lagi-lagi berwajah Jepang) namun gerak-gerik dan tata bahasanya mengingatkan kita sama presiden Gus Dur (Hehehe, gak tau sengaja apa enggak). Si pemeran bapak dan ibu Siguto sebagai Pres RI ini cuman kebagian disorot dari belakang, yang penampilannya jadul abisss. Pak Presiden pake peci, istrinya pake kebaya dan dikonde hehehe. And mereka sipit bangetss, mungkin cari muka melayu susah, jadi sutradara menyamaratakan orang Asia gitu aja. Diceritain disini staff gedung putih kebingungan nyari translator karena mereka bilang Indonesia speaks in 300 different languages, dan dibilang kita gak punya bahasa nasional. Disini ngaconya! Tambahan lagi staff Indonesia itu ceritanya orang Batak, dan kacaunya lagi namanya: Rahmahidi Sumahijo Bambang (lucunya waktu tuh bule ngucapin nih nama), mana nama bataknya? Kayaknya gak pernah denger ada orang Batak namanya Rahmahidi Sumahijo, orang Jawa aja kayaknya ga ada.

Ketika presiden sedang konferensi pers, para stafnya pun melakukan pertemuan informal dan mereka pusing nyari translator karena ada 1 orang yang bisa Bahasa Batak, dan dia orang Portugis, tapi tuh orang ga bisa Bahasa Inggris, jadi di film ini ceritanya mereka nyari 2 orang akhirnya buat translate Inggris->Portugis, Portugis-> Batak. Mereka berusaha menjelaskan jika mereka akan membantu perekonomian Indonesia dengan syarat beberapa tahanan politik dibebaskan. Untungnya, ending film ini bagus. Ketika mereka bersusah payah berbicara Batak dan Portugis, tiba-tiba, staf indonesia yaitu si Bambang ini (yang ini mukanya emang melayu..ga tau apa indonesia beneran..) itu bicara bahasa Inggris dan memaki-maki para staf gedung putih “Anda pikir kami bangsa yang bodoh?

Anda pikir kami tak tahu anda anggap apa bangsa kami dan apa anda pikir kami tak bisa berbahasa Inggris? Kami mengerti semua perkataan anda bahkan arah pidato presiden anda kami sangat paham. Tapi kami bangsa yang berdaulat. Jangan mentang-mentang anda negara kuat seenaknya saja mengatur kebijakan dalam negri kami. Urus saja urusan dalam negeri anda. Dan satu hal, daripada kami mengikuti kemauan Anda, lebih baik kami tak usah dibantu sama sekali”. Bagus banget endingnya.
Sayang cuma di film ya…

7. THE SILENCE OF THE LAMBS
Dalam film yang thriller psikologi yang dibintangi Jodie Foster ini ada adegan dimana di sweater orang yang diculik kanibal itu tertulis “MADE IN INDONESIA”. Apakah image Indonesia sudah sebagai negara yang banyak penculikan atau karena kita produsen tekstil?

8. SLEEPER CELL (2005-2007) (Serial TV)
Serial TV ini bercerita tentang Darwyn Al-Sayeed, seorang muslim Afrika-Amerika yang bekerja sebagai agen FBI. Tugas Darwyn adalah mengusut kasus terorisme yang dilakukan organisasi teroris pimpinan Faris Al-Farik. Diceritakan, dalam episode Target dan Scholar,Darwyn berurusan dengan tokoh mahasiswa Indonesia bernama Eddy Pangetsu (Jeff Mallare). Eddy digambarkan sebagai ahli biologi kimia yang direkrut Faris Al-Farik untuk membuat virus anthrax yang disebar di Amerika. Menariknya, salah satu adegan menggambarkan Faris menuduh Eddy menyelundupkan virus tersebut ke Indonesia untuk dikirimkan ke pamannya, seorang gangster lokal. Oke, negara kita kini digambarkan cerdas, tapi gemar berperang. Ironisnya lagi, Sleeper Cell yang punya tagline “Friends. Neighbours. Husbands. Terrorists” ini ternyata cukup mendapat perhatian di negara asalnya. Buktinya,tahun lalu serial ini dinominasikan Emmy Awards untuk kategori Outstanding Miniseries, serta Golden Globe untuk Best Miniseries.Untungla h, Sleeper Cell tidak menang.Lebih untung lagi, Jeff Mallare si pemeran Eddy Pangetsu juga tidak masuk nominasi. Jadi dalam film ini, Indonesia digambarkan sebagai Sarang Teroris.

9. SWEETEST THING (2002)
Dalam film drama psikologi ini, si cantik Cameron Diaz ternyata juga “bermulut sampah” saat mengeluh karena teman-temannya selalu saja membuat ulah dan mengacau. Dengan enteng dia berkomentar, “Kalian ini bikin kacau saja seperti Indonesia”. Selain itu, waktu Christina Applegate masuk apartemen dan ngeliat apartemennya berantakan dipake ML gila2an oleh Selma Blair, Christina bilang gini “this place is a mess like Indonesia”. Jadi, ruangan kayak kapal pecah itu disamakan kaya Indonesia

10. NEEDFULL THING
Film tentang iblis yang membuat kacau sebuah kota yang damai. Iblis yg mengadu domba seluruh penduduk 1 kota. Pemain utamanya seorang polisi. Di akhir film si iblis bersumpah akan membalas dendam, dengan bekerja sama dengan anak si polisi itu di masa depan (2014), di Jakarta.

11. MIAMI VICE (Serial TV)
Salah satu episodenya adalah mengungkap penyelundupan narkoba yang disembunyikan di dalam nanas yang berasal dari Indonesia.

12. KINGDOM
Film ini tentang aksi terorisme di Arab Saudi dan diceritakan ancaman tentang aliran dana group radikal mengalir ke Jakarta.

10 Film Pertama Di Indonesia

inilah 10 Film pertama di Indonesia jaman doeloe yang sempat beken pada zamannya

1. Loetoeng Kasaroeng (1926) 10 Film Pertama Di Indonesia

10 Film pertama Indonesia
Loetoeng Kasaroeng adalah sebuah film Indonesia tahun 1926. Meskipun diproduksi dan disutradarai oleh pembuat film Belanda, film ini merupakan film pertama yang dirilis secara komersial yang melibatkan aktor Indonesia.

2. Eulis Atjih (1927) 10 Film Pertama Di Indonesia

10 Film pertama Indonesia
Sebuah film bisu bergenre melodrama keluarga, film ini disutradarai oleh G. Kruger dan dibintangi oleh Arsad & Soekria. Film ini diputar bersama-sama dengan musik keroncong yang dilakukan oleh kelompok yang dipimpin oleh Kajoon, seorang musisi yang populer pada waktu itu. Kisah Eulis Atjih, seorang istri yang setia yang harus hidup melarat bersama anak-anaknya karena ditinggal suaminya yang meninggalkannya untuk berfoya-foya dengan wanita lain, walaupun dengan berbagai masalah, akhirnya dengan kebesaran hatinya Eulis mau menerima suaminya kembali walaupun suaminya telah jatuh miskin.

3. Lily Van Java (1928) 10 Film Pertama Di Indonesia

10 Film pertama Indonesia
Film yang diproduksi perusahaan The South Sea Film dan dibuat bulan Juni 1928. Bercerita tentang gadis yang dijodohkan orang tuanya padahal dia sudah punya pilihan sendiri. Pertama dibuat oleh Len H. Roos, seorang Amerika yang berada di Indonesia untuk menggarap film Java. Ketika dia pulang, dilanjutkan oleh Nelson Wong yang bekerja sama dengan David Wong, karyawan penting perusaahaan General Motors di Batavia yang berminat pada kesenian, membentuk Hatimoen Film. Pada akhirnya, film Lily van Java diambil alih oleh Halimoen. Menurut wartawan Leopold Gan, film ini tetap digemari selama bertahun-tahun sampai filmnya rusak. Lily van Java merupakan film Tionghoa pertama yang dibuat di Indonesia.


4. Resia Boroboedoer (1928) 10 Film Pertama Di Indonesia

10 Film pertama Indonesia
Film yang diproduksi oleh Nancing Film Co, yang dibintangi oleh Olive Young, merupakan film bisu yang bercerita tentang Young pei fen yang menemukan sebuah buku resia (rahasia) milik ayahnya yang menceritakan tentang sebuah bangunan candi terkenal (Borobudur). Diceritakan juga di candi tersebut terdapat sebuah harta karun yang tak ternilai, yaitu guci berisi abu sang Buddha Gautama.


5. Setangan Berloemoer Darah (1928) 10 Film Pertama Di Indonesia

Film yang disutradarai oleh Tan Boen San, setelah pencarian di beberapa sumber, sinopsis film ini belum diketahui secara pasti.

6. Njai Dasima I (1929) 10 Film Pertama Di Indonesia

10 Film pertama Indonesia
Film ini berasal dari sebuah karangan G. Francis tahun 1896 yang diambil dari kisah nyata, kisah seorang istri simpanan, Njai (nyai) Dasima yang terjadi di Tangerang dan Betawi/Batavia yang terjadi sekitar tahun 1813-1820-an. Nyai Dasima, seorang gadis yang berasal dari Kuripan, Bogor, Jawa Barat. Ia menjadi istri simpanan seorang pria berkebangsaan Inggris bernama Edward William. Oleh sebab itu, akhirnya ia pindah ke Betawi/Batavia. Karena kecantikan dan kekayaannya, Dasima menjadi terkenal. salah seorang penggemar beratnya Samiun yang begitu bersemangat memiliki Nyai Dasima membujuk Mak Buyung untuk membujuk Nyai Dasima agar mau menerima cintanya. Mak buyung berhasil membujuk Dasima walaupun Samiun sudah beristri. Hingga akhirnya Nyai Dasima disia-siakan Samiun setelah berhasil dijadikan istri muda.


7. Rampok Preanger(1929) 10 Film Pertama Di Indonesia

Ibu Ining tidak pernah menduduki bangku sekolah, tahun 1920-an adalah seorang penyanyi keroncong terkenal pada Radio Bandung (NIROM) yang sering pula menyanyi berkeliling di daerah sekitar Bandung. Kemudian ia memasuki dunia tonil sebagai pemain sekaligus sebagai penyanyi yang mengadakan pagelaran keliling di daerah Priangan Timur. Main film tahun 1928 yang berlanjut dengan 3 film berikutnya. Film-film itu seluruhnya film bisu. Ketika Halimoen Film ditutup tahun 1932, hilang pulalah Ibu Ining dari dunia film. Namun sampai pecahnya PD II, ia masih terus menyanyi dan sempat pula membuat rekaman di Singapura dan Malaya. Pada tahun 1935 ia meninggal dunia dalam usia 69 tahun karena sakit lever.


8. Si Tjonat (1929) 10 Film Pertama Di Indonesia

Cerita dalam film ini berputar pada kisah seseorang yang dijuluki si Tjonat. Nakal sejak kecil, si Tjonat (Lie A Tjip) melarikan diri ke Batavia (Jakarta) setelah membunuh temannya. Di kota ini ia menjadi jongos seorang Belanda, bukannya berterima kasih karena mendapat pekerjaan, ia juga menggerogoti harta nyai tuannya itu. Tak lama kemudian ia beralih profesi menjadi seorang perampok dan jatuh cinta kepada Lie Gouw Nio (Ku Fung May). Namun cintanya bertepuk sebelah tangan, penolakan Gouw Nio membuatnya dibawa lari oleh si Tjonat. Usaha jahat itu dicegah oleh Thio Sing Sang (Herman Sim) yang gagah perkasa.

9. Si Ronda (1930) 10 Film Pertama Di Indonesia

10 Film pertama Indonesia
Film ini disutradaria oleh Lie Tek Swie & A. LOEPIAS (Director of Photography), dan dibintangi oleh Bachtiar Efendy & Momo. Film ini bercerita tentang kisah seorang jagoan perkelahian yang mengandung unsur kebudayaan Cina.

10. Boenga Roos dari Tjikembang (1931) 10 Film Pertama Di Indonesia

10 Film pertama Indonesia
Film bersuara pertama di Indonesia, film ini menceritakan tentang hubungan antar etnis Cina & pribumi. Dalam film ini, The Teng Chun bertindak sebagai sutradara dan kamera. Cerita ini dikarang oleh Kwee Tek Hoay dan pernah dipentaskan Union Dalia Opera pada 1927, meskipun cuma ringkasan cerita saja, yaitu tentang Indo-Tiongha. Dan film ini diberitakan oleh pengarangnya film Cina buatan Java ini adalah karya Indo-Tiongha.

sumber http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7647908

10 Film dari Novel Siap Menyerbu


Hollywood memang tak pernah kehabisan ide cerita untuk pembuatan film. Jika mereka sudah kehabisan cerita yang ditulis khusus untuk film, novel pun bisa disadur ke layar lebar. Tak sedikit pula film berdasarkan novel laris manis dalam perolehan box office. Sebut saja, The Lord of the Rings, Harry Potter, dan The Chronicles of Narnia.
Terakhir, yang tak kalah menghebohkan dan meraih kesuksesan secara mengejutkan, adalah Twilight Saga. Baik seri pertamanya, Twilight, maupun New Moon dan Eclipse sama-sama mencetak keberhasilan secara finansial di box office Amerika maupun dunia. Seri selanjutnya pun, Breaking Dawn, siap menggebrak box office,  November nanti.
Berikut silakan simak 10 novel yang siap dibuat versi layar lebarnya maupun film televisi, lengkap dengan para pemerannya.
1. Admission (karya Jean Hanff Korelitz): bercerita tentang serorang perempuan berumur 38 tahun, bernama Portia Nathan, yang bekerja di Universitas Princeton sebagai pegawai admisi. Ia begitu mencintai pekerjaannya, hingga suatu ketika ia bertemu dengan seorang murid yang kepintarannya melebihi standard murid-murid yang kuliah di situ. Film ini rencananya akan dibintangi oleh komedian Tina Fey, yang berperan sebagai Portia Nathan.
2. Back Roads (Tawni O'Dell): Harley, yang masih berumur 19 tahun, dibebani hidupnya karena harus mengurus adik-adinya, di saat ibunya mendekam di penjara. Hidupnya menjadi lebih rumit ketika ia jatuh cinta kepada ibu dari salah satu teman kakaknya. Film ini dimainkan oleh Andrew Garfield (pemeran Spider-Man terbaru) sebagai Harley dan Jennifer Garner sebagai ibu dari teman adiknya.
3. Anna Karenina (Leo Tolstoy): novel klasik Tolstoy ini mengisahkan nasib tragis seorang perempuan yang terjebak cinta antara suami dan kekasihnya. Keira Knightley sudah dipastikan akan berperan sebagai Anna. Namun aktor Jude Law dan Aaron Johnson, belum dipastikan akan berperan sebagai siapa.
4. Abraham Lincoln: Vampire Hunter (Seth Grahame-Smith): kisah vampir memang tak bosan-bosannya diolah dengan formula baru dan berbeda. Kali ini novel karangan Smith menceritakan Presiden ke-16 AS yang masa mudanya ternyata berprofesi sebagai pemburu vampir. Aktor pendatang baru, Benjamin Walker, telah didapuk sebagai Honest Abe. Aktris muda berbakat Mary Elizabeth Winstead dipastikan akan berperan sebagai Mary Todd.
5. Odd Thomas (Dean Koontz): Koontz memang spesialis pengarang novel horor. Kali ini ia memilih tema horor atau misteri mengenai seorang pria muda yang mempunyai kemampuan melihat arwah orang-orang yang telah meninggalkan dunia. Kemampuannya itu digunakannya untuk menolong sesama. Aktor muda Anton Yelchin dipastikan akan memainkan karakter lelaki tersebut.
6. Alfred Hitchcock and the Making of Psycho (Alfred Hitchcock): novel ini berkisah tentang hubungan sutradara misteri, Alfred Hitchcock, dengan istrinya, ketika pembuatan film horor atau misteri yang paling terkenal, Psycho. Anthony Hopkins akan berperan sebagai sutradara yang selalu menjadi kameo dalam film-film arahannya.
7. Breaking Dawn (Stephenie Meyer): sudah dipastikan film ini merupakan film yang paling dinanti oleh para pecinta Twilight Saga. Novel Breaking Dawn merupakan seri terakhir dari perjalanan kisah cinta Bella dan Edward. Namun, filmnya sendiri akan dibagi dalam dua bagian. November ini, kisah percintaan manusia dan vampir siap menghibur para penggemar film, termasuk Twilight. Kristen Stewart dan Robert Pattinson masih tetap dipercaya untuk menjadi Bella dan Edward.
8. The Hobbit (J.R.R. Tolkien): prekuel dari trilogi The Lord of the Rings, The Hobbit, sedang dalam tahap pencarian kasting. The Hobbit akan berfokus pada petualangan Bilbo Baggins, yang melakukan perjalanan sepanjang Middle Earth. Martin Freeman berperan sebagai Bilbo. Para pemeran The Lord of the Rings, seperti Elijah Wood, hampir dipastikan akan tampil dalam film yang paling ditunggu-tunggu fans Tolkien ini.
9. The Monster of Florence (Douglas Preston): kisah nyata yang cukup menarik mengenai sang pengarang novel sendiri, yang melakukan penyelidikan tentang pembunuh berantai yang dijuluki "The Monster of Florence". George Clooney telah dipercaya untuk memerankan Preston.
10. Game Change (John Heilemann): novel nonfiksi ini bertutur tentang para "pemain kunci" selama pemilihan presiden AS pada 2008, yang berfokus pada Sarah Palin, Barack Obama, dan John Edwards. Aktris kawakan Julianne Moore akan bermain sebagai Sarah Palin dalam film televisi produksi HBO ini.

kompas.com

Pajak Film Hollywood Membantu Film Nasional?


Oleh: Sheila TimothyProduser Film Pintu Terlarang dan Presiden Direktur LifeLike Pictures. Twitter: @lalatimothy
VIVAnews - Pada 10 Januari 2011, diterbitkan Surat Edaran Direktur  Jenderal  Pajak nomor SE - 3/PJ/2011 tentang Pajak Penghasilan (PPh) atas Penghasilan Berupa Royalti dan pemberlakuan Pajak Pertambahan Nilai atas Pemasukan Film Impor. Peraturan ini merupakan penafsiran baru atas undang-undang dan peraturan tentang pajak bea masuk yang lama.
Dengan surat edaran ini penghasilan yang dibayarkan keluar negeri oleh importir terkait penggunaan hak cipta atas film impor dengan persyaratan tertentu, merupakan royalti yang dikenakan PPh 20 persen. Peraturan ini mendapat reaksi keras dari pihak importir film, yang mengakibatkan MPAA (Motion Picture Association of America) atau asosiasi produsen film Amerika Serikat menyatakan tak akan lagi mengedarkan film Hollywood ke Indonesia.

Hampir dua pertiga jumlah film yang diputar di bioskop saat ini adalah film-film Hollywood dan asing non-Hollywood. Banyak pihak khawatir langkah MPAA ini akan diikuti oleh distributor film non-Hollywood, karena bea dan pajak ini diberlakukan merata untuk semua film impor.

Pemerintah mengatakan mereka sedang memikirkan jalan keluar atas keberatan ini. Tujuan pemerintah memberlakukan pajak ini, seperti diberitakan berbagai media, adalah untuk mendukung industri perfilman nasional sehingga dapat bersaing di pasar domestik.

Itu tujuan yang sebenarnya baik, namun apabila ditelaah lebih mendalam, ternyata tidaklah tepat pada sasarannya. Pada kenyataannya, kebijakan itu justru berpotensi makin mempersulit industri film nasional.

Seharusnya, pemerintah sejak awal mengkomunikasikan terlebih dahulu kebijakan tersebut dengan pelaku industri film nasional, bukan malah sesudah kebijakan tersebut diimplementasikan. Ini penting supaya berbagai kesulitan yang selama ini dihadapi oleh sineas Indonesia benar-benar dapat diakomodasi secara pas. Jangan karena semata ingin meningkatkan penghasilan APBN, peraturan baru dikeluarkan, dan hasilnya malah makin mempersulit industri film Indonesia.

Terlepas dari keberatan MPAA, tulisan ini akan lebih menitikberatkan pada kenyataan di lapangan. Apa sebetulnya kesulitan yang dihadapi oleh filmaker Indonesia, bagaimana solusi yang diharapkan dari pemerintah, dan bagaimana efek pemberlakuan pajak dan bea film impor itu terhadap industri film nasional.

Satu habitat

Menghilangnya film-film asing (Hollywood dan kemungkinan juga akan diikuti oleh non-Hollywood) akan mengganggu industri film lokal secara keseluruhan.
Mengapa?

Perlu diingat, industri film merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari banyak partikel. Industri film adalah suatu sistem yang terdiri dari bukan hanya pembuat film, atau production house, tetapi juga termasuk di dalamnya semua perusahaan yang terlibat di berbagai bidang--teknologi, komersial film, distributor, dan exhibitor. Segenap partikel itu merupakan kesatuan dalam suatu habitat, yang saling membutuhkan satu sama lain, suatu simbiosis mutualisme.

Jika salah satu partikel terganggu, partikel lain akan terganggu pula. Pendek kata, jika film-film asing (baik Hollywood atau non-Hollywood) menghilang di layar exhibitor (bioskop-bioskop), maka penghasilan dari exhibitor akan terganggu. Jika exhibitor menghilang, lalu di mana filmaker lokal dapat memutar film mereka?

Jadi, pertanyaan kita adalah: benarkah pengenaan pajak dan bea impor ini, yang berpotensi akan mengurangi bahkan menghilangkan film impor dari layar bioskop, akan meningkatkan jumlah film nasional?

Tujuan itu mungkin tercapai jika kita hanya bicara kuantiĆ­tas film, bukan kualitasnya. Untuk memenuhi kuota, filmaker dapat saja membuat film dengan cepat, dengan dana seadanya, diproduksi dalam satu minggu, yang akan siap tayang dalam tempo satu bulan, digandakan sebanyak mungkin, kemudian segera dilempar ke pasar.

Masalahnya, dengan kualitas yang rendah dan dibuat asal-asalan seperti itu, apakah masalah yang dihadapi film lokal saat ini akan terjawab? Apakah penonton mau mengeluarkan uang untuk menonton film kacangan? Tentu saja tidak. Jumlah penonton bioskop niscaya akan semakin turun. Kepercayaan masyarakat terhadap film nasional akan semakin sirna. Sebagai gambaran, di tahun 2010 saja jumlah penonton film nasional hanyalah sekitar 500 ribu orang saja--jumlah yang sangat sedikit.

Pajak, pajak, dan pajak

Keberatan MPAA mengenai pajak sebenarnya juga merupakan kesulitan terbesar industri film nasional. Pajak yang dikenakan pada industri film nasional tidaklah sedikit. Sumbangannya kepada kas negara dimulai dari masa produksi sampai dengan paska produksi. Pajak tersebut di antaranya adalah PPn (dari material pembuat film sampai dengan penyewaan alat dan penggandaan) dan PPh Karyawan Pasal 21.
Belum lagi, penghasilan dari bioskop--yang merupakan penghasilan terbesar bagi suatu production house--masih dipotong Pajak Tontonan, yang besarnya bervariasi sesuai dengan peraturan daerah masing-masing, bahkan ada yang mencapai 30 persen. Penghasilan setelah dipotong pajak tontonan ini harus dibagi dua dengan pengusaha bioskop. Setelah itu, pendapatan production house masih dipotong lagi Pajak Royalti sebesar 10 persen (Peraturan Direktorat jenderal Pajak nomor PER-33/PJ/2009).
Pajak serupa dikenakan pula pada penghasilan dari sumber-sumber lain seperti home video, penjualan ke stasiun TV, dan lainnya. Sudah begitu, di akhir tahun buku, production house masih dikenakan lagi Pajak Penghasilan Pasal 23.

Memang, seluruh jumlah pajak yang dibayar ini nantinya dapat diperhitungkan di akhir tahun sebagai kredit pajak, yaitu dianggap dikreditkan setelah dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak atau setelah dikurangi dengan pajak yang dikompensasikan. Namun ini tetap memberatkan karena harus dibayar dimuka, yang alhasil tidak mengurangi jumlah investasi yang dibutuhkan di awal.

Tiadanya distributor

Kesulitan lain yang dihadapi adalah bahwa production house di Indonesia tidak memiliki distributor. Yang ada adalah exhibitor, yaitu bioskop-bioskop yang memutar film, sehingga seluruh biaya dari hilir ke hulu ditanggung sepenuhnya oleh production house—mulai dari produksi sampai biaya promosi. Untuk ini, investasi yang dibutuhkan sangatlah tidak sedikit.

Filmaker Indonesia jelas membutuhkan dukungan pemerintah, karena tanpa itu industri film nasional tidak akan bisa berkembang dan akan tetap menjadi infant industry.

Tuntutan untuk menyederhanakan pajak dan peraturan jelas perlu terus diperjuangkan. Hanya saja perlu dicatat, perubahan peraturan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sementara itu, keadaan industri film nasional sudah masuk dalam kondisi genting. Janganlah sampai film Indonesia kembali mati suri seperti di tahun 1980an.

Kita membutuhkan jumlah layar bioskop yang lebih banyak untuk dapat menayangkan film-film nasional, sehingga tidak harus digilir seperti sekarang karena kekurangan layar. Akibatnya, jangka waktu tayang suatu film di bioskop akan semakin pendek.

Dalam hal ini, dengan peraturan pajak dan bea impor yang baru, bioskop justru akan semakin kesulitan. Niscaya, mereka akan terpaksa menutup bioskop satu persatu, terkhusus pengusaha-pengusaha bioskop kecil di daerah. Kondisi ini, pada gilirannya, akan membuat keadaan jadi semakin sulit bagi film nasional. 

Bantuan pemerintah

Jika mau membantu film nasional, pemerintah harus menempuh cara-cara yang tepat sasaran. Salah satunya adalah mendukung filmaker yang berbakat dengan, misalnya, memberikan subsidi dan membantu promosi, khususnya buat para filmaker yang telah berprestasi membawa nama Bangsa ke berbagai festival dunia.

Di Malaysia, contohnya. Pemerintah negeri jiran memberlakukan peraturan untuk memutar kembali film-film yang sudah dirilis dan memenangkan penghargaan di luar negeri. Tidak hanya mewajibkan supaya diputar selama sebulan penuh, pemerintah juga membantu mempromosikan dan mempublikasikan film-film tersebut berikut segenap filmaker yang terlibat di dalamnya. Begitu pula yang dilakukan negara-negara tetangga lain seperti Thailand dan Korea, yang industri perfilmannya jauh lebih maju dari Indonesia.

Hal lain, kualitas film nasional jelas masih perlu ditingkatkan. Diperlukan lebih banyak sekolah film yang bisa menghasilkan sineas muda yang berbakat dan profesional. Dengan kualitas film yang baik, industri film Indonesia bisa dikenal di dunia dan mempunyai daya jual yang baik. Ini saatnya pemerintah benar-benar menganggap serius industri film nasional sebagai suatu industri yang dapat menghasilkan devisa bagi negara. Industri film adalah bagian dari industri kreatif yang sedang dipromosikan Menteri Perdagangan.

Elemen dalam industri film nasional yang menunjang pun harus diperhatikan pemerintah. Misalnya, festival film nasional dan asing harus didukung dengan serius. Festival seperti JIFEST, INAFFF, dan lainnya punya posisi penting karena merupakan bagian pembelajaran untuk filmaker dan penonton Indonesia. Selain itu, jika dikelola dengan baik, festival-festival ini akan menjadi elemen penting dalam promosi pariwisata Indonesia.

Film adalah suatu produk budaya, cerminan perkembangan budaya suatu bangsa. Pemerintah wajib mendukung industri ini supaya dapat selamat dari keadaan yang sedang memprihatinkan ini. Semoga film Indonesia bukan hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tapi lebih dari itu, juga menjadi kebanggaan Bangsa.


• VIVAnews

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews